RIAU ONLINE, PEKANBARU - Sosok Brigjen Pol Hengki Haryadi kembali menjadi perhatian setelah dirinya mendapat penugasan baru sebagai Kapolda Papua Barat Daya. Mutasi tersebut menarik perhatian lantaran Hengki baru sekitar delapan bulan menjabat sebagai Wakapolda Riau.
Sebelum akhirnya dipromosikan menjadi Kapolda Papua Barat Daya, namanya bahkan sempat disebut-sebut warga Jakarta sebagai sosok yang dinilai mampu memberantas aksi premanisme di Ibu Kota.
Pernyataan tersebut salah satunya muncul dari akun Instagram @akademi_kepolisiaan_alumni.
Melalui unggahannya, akun tersebut menyebut Jakarta membutuhkan sosok Hengki Haryadi untuk menghadapi persoalan premanisme yang dinilai masih menjadi perhatian masyarakat.
Sorotan terhadap persoalan tersebut mencuat setelah insiden kericuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis, 27 Agustus 2026 malam.
Dalam peristiwa itu, seorang tukang cermin bernama Bambang Setiyawan (59), warga Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, meninggal dunia setelah dievakuasi petugas dalam kondisi tidak sadarkan diri dari lokasi kejadian.
Selain Bambang, seorang pemuda bernama Faturohman (18) juga mengaku menjadi korban penganiayaan dalam kericuhan tersebut. Fatur mengalami sejumlah luka akibat peristiwa yang sama.
Kematian Bambang kemudian memicu perhatian publik. Dugaan adanya penganiayaan dalam insiden tersebut membuat persoalan premanisme kembali menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Atas kondisi itu, muncul dorongan dari sejumlah warga agar Hengki Haryadi kembali bertugas di Jakarta. Sosok Hengki dinilai memiliki pengalaman dan rekam jejak dalam menangani berbagai persoalan keamanan dan kriminalitas ketika bertugas di wilayah Ibu Kota.
"Jakarta membutuhkan Wakapolda Riau Brigjen Pol Hengki Haryadi untuk memberantas premanisme di Kota Jakarta," demikian narasi yang disampaikan akun Instagram @akademi_kepolisiaan_alumni dalam unggahannya.
Nama Hengki memang tidak asing dalam penanganan persoalan keamanan di Jakarta. Pengalamannya selama bertugas di wilayah metropolitan tersebut menjadi salah satu alasan sosoknya kembali dikaitkan dengan upaya pemberantasan premanisme.
Namun, harapan agar Hengki kembali ke Jakarta ternyata tidak terwujud. Alih-alih kembali ke Ibu Kota, perwira tinggi Polri tersebut justru mendapatkan amanah baru di ujung timur Indonesia.
Hengki Dipromosikan Jadi Kapolda Papua Barat Daya
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan mutasi sejumlah perwira tinggi dan perwira menengah Polri.
Dalam salah satu mutasi tersebut, Brigjen Pol Hengki Haryadi dipercaya meninggalkan jabatan Wakapolda Riau dan selanjutnya menduduki posisi sebagai Kapolda Papua Barat Daya.
Mutasi itu tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/877/VII/KEP./2026 tertanggal 30 Agustus 2026.
Dalam telegram tersebut, Hengki dimutasi dari jabatan Wakapolda Riau untuk selanjutnya dipercaya memimpin Kepolisian Daerah Papua Barat Daya.
Penugasan itu sekaligus menjadi promosi bagi Hengki. Dari sebelumnya menduduki posisi sebagai Wakapolda Riau, kini ia dipercaya menjadi orang nomor satu di jajaran Polda Papua Barat Daya.
Pergantian tersebut sekaligus mengakhiri masa tugas Hengki di Riau yang relatif singkat. Hengki baru dilantik sebagai Wakapolda Riau pada 14 Desember 2025, menggantikan Brigjen Pol Andrianto Jossy Kusumo.
Artinya, masa pengabdiannya sebagai Wakapolda Riau belum genap satu tahun. Meski demikian, selama berada di Riau, Hengki terlibat dalam berbagai agenda kepolisian dan penanganan sejumlah persoalan keamanan di wilayah tersebut.
Setelah Hengki meninggalkan Riau, posisi Wakapolda Riau tidak dibiarkan kosong. Jabatan tersebut kemudian diisi oleh Kombes Pol Dedy Suhartono.
Sebelumnya, Dedy Suhartono menjabat sebagai Kasubdit STNK Regident Korlantas Polri. Penunjukan Dedy menjadi bagian dari rangkaian rotasi dan promosi jabatan di tubuh Polri yang dilakukan Kapolri.
Pergantian Wakapolda Riau ini menjadi perhatian karena Hengki terbilang belum lama menjalankan tugas di Riau. Namun, keputusan mutasi sekaligus promosi tersebut menunjukkan kepercayaan pimpinan Polri terhadap pengalaman dan kapasitas Hengki untuk memimpin wilayah kepolisian baru.
Dari Jakarta, Riau, Kini Pimpin Papua Barat Daya
Perjalanan karier Hengki Haryadi menjadi salah satu alasan namanya cukup mendapat perhatian. Sosoknya memiliki pengalaman bertugas di sejumlah posisi strategis di lingkungan Polri, termasuk dalam penanganan persoalan keamanan dan kriminalitas di wilayah Jakarta.
Karena pengalaman tersebut, muncul anggapan dari sebagian masyarakat bahwa Hengki merupakan salah satu figur yang dianggap mampu menghadapi persoalan premanisme dan gangguan keamanan di kawasan perkotaan.
Insiden meninggalnya Bambang Setiyawan di Pejompongan kemudian kembali mengangkat harapan tersebut ke ruang publik.
Namun, alih-alih kembali ke Jakarta, Hengki justru mendapat mandat yang tidak kalah strategis. Ia kini dipercaya memimpin Polda Papua Barat Daya.
Promosi tersebut membuat Hengki memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Sebagai Kapolda, ia bukan lagi berada pada posisi pendamping pimpinan wilayah, melainkan menjadi pejabat utama yang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas kepolisian di wilayah hukumnya.

