Riau Dikepung Titik Panas, Kualitas Udara Pekanbaru Masuk Kategori Tidak Sehat

Riau-Dikepung-Titik-Panas-Kualitas-Udara-Pekanbaru-Masuk-Kategori-Tidak-Sehat.jpg
Data kualitas udara dari IQAir pada pukul 09.00 WIB menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) Pekanbaru berada di angka 160 AQI US atau masuk kategori tidak sehat. (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Sebanyak 355 titik panas (hotspot) terdeteksi di Provinsi Riau berdasarkan pembaruan data hingga pukul 23.00 WIB. Di saat yang sama, kualitas udara di Kota Pekanbaru pada Minggu, 23 Agustus 2026 pagi berada dalam kategori tidak sehat.

Data kualitas udara dari IQAir pada pukul 09.00 WIB menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) Pekanbaru berada di angka 160 AQI US atau masuk kategori tidak sehat. Polutan utama yang terpantau adalah PM2.5 dengan konsentrasi 68,8 µg/m³.

Dalam data tersebut, kondisi Pekanbaru tercatat bersuhu 28 derajat Celsius, kecepatan angin 9 kilometer per jam dan kelembapan udara 64 persen.

Sementara itu, berdasarkan data titik panas, Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak di Riau, yakni mencapai 216 titik. Disusul Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 80 titik.



Hotspot juga terpantau di Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 12 titik, Kampar 11 titik, Siak 10 titik, Kepulauan Meranti 7 titik, Indragiri Hulu 6 titik, Bengkalis 5 titik, Rokan Hulu 3 titik, Rokan Hilir 3 titik dan Kota Dumai 2 titik.

Secara keseluruhan, jumlah hotspot di Sumatera mencapai 2.610 titik. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi sebanyak 1.311 titik, kemudian Jambi 278 titik, Bangka Belitung 268 titik dan Lampung 187 titik.

Untuk kondisi cuaca Riau, pagi hari diprakirakan udara kabur hingga cerah berawan. Pada siang hingga sore hari, cuaca diprakirakan cerah berawan hingga berawan. Kondisi serupa diprakirakan terjadi pada malam hari, sedangkan dini hari udara kembali kabur hingga cerah berawan.

Suhu udara Riau diprakirakan berkisar 23–34 derajat Celsius, dengan kelembapan udara 50–95 persen. Angin bertiup dari arah tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 10–30 kilometer per jam.

Tingginya jumlah titik panas, khususnya di Pelalawan dan Indragiri Hilir, menjadi perhatian karena kondisi atmosfer dan kualitas udara dapat berubah seiring perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kondisi kualitas udara Pekanbaru yang berada pada kategori tidak sehat juga menjadi indikator perlunya kewaspadaan masyarakat, terutama kelompok rentan, terhadap paparan polusi udara.