Harga Ayam di Pekanbaru Tembus Rp40 Ribu, Ekonom Soroti Pasokan dan MBG

Pedagang-ayam-di-cik-puan2.jpg
Pedagang daging ayam potong di Pasar Cik Puan, Pekanbaru (RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU — Harga ayam potong di sejumlah pasar tradisional di Kota Pekanbaru melonjak tajam. Dari sebelumnya berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram, harga kini disebut telah menembus Rp40 ribu per kilogram.

Kenaikan tersebut mencapai hampir 48 persen dalam waktu relatif singkat. Kondisi ini mulai menekan konsumen rumah tangga sekaligus pedagang kecil yang menggantungkan pendapatan dari penjualan ayam potong.

Ekonom senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, menilai lonjakan harga tersebut perlu mendapat perhatian serius pemerintah. Menurutnya, perubahan harga yang terjadi dalam waktu singkat harus dilihat dari keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan ayam di pasar.

“Ngeri kali memang lonjakan harga ayam potong di Pekanbaru ini. Dari yang tadinya cuma Rp25 ribu sampai Rp27 ribu per kilogram, sekarang sudah meroket tembus Rp40 ribu per kilogram. Kenaikan hampir 48 persen dalam waktu singkat ini jelas bikin pening kepala, bukan cuma buat emak-emak di dapur, tapi juga buat pedagang kecil,” kata Dahlan, Sabtu 22 Agustus 2026..

Dahlan menjelaskan, harga komoditas akan terdorong naik ketika permintaan meningkat sementara jumlah barang yang tersedia tidak mampu mengimbanginya.

Dalam teori ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai demand-pull inflation, yakni tekanan kenaikan harga yang terjadi ketika pertumbuhan permintaan lebih cepat dibandingkan kemampuan penyediaan barang.

Ia menilai persoalan pasokan ayam di Pekanbaru perlu dilihat secara menyeluruh. Berdasarkan keterangan pedagang yang diterimanya, sebagian pasokan ayam disebut terserap melalui jalur pengadaan dalam jumlah besar sehingga ketersediaan ayam bagi pedagang eceran di pasar tradisional menjadi lebih terbatas.

“Kalau jumlah yang diminta melonjak tetapi barang yang tersedia di pasar seret, otomatis harga melambung. Ini tekanan permintaan yang bertemu dengan keterbatasan pasokan,” ujarnya.

Dahlan juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam membaca perubahan permintaan ayam.

Ia mengacu pada keterangan pedagang di lapangan yang menyebut adanya pasokan ayam yang diambil melalui tengkulak untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.

Menurut Dahlan, apabila penyerapan dalam jumlah besar berlangsung ketika pasokan belum bertambah secara memadai, pedagang pasar tradisional berpotensi kesulitan memperoleh ayam.

Fenomena tersebut, kata dia, dapat dijelaskan melalui konsep crowding out effect dalam konteks persaingan memperoleh pasokan.



“Kalau ada pembeli berskala besar dengan sumber daya yang besar, kelompok pembeli lain bisa terdorong ke pinggir. Pedagang yang biasanya mendapatkan pasokan cukup akhirnya menerima lebih sedikit karena stok sudah terserap lebih dulu,” kata Dahlan.

Ia mencontohkan perubahan jumlah pasokan yang diterima pedagang. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, pedagang yang sebelumnya dapat menerima sekitar delapan hingga 10 kotak ayam potong kini hanya memperoleh tiga hingga empat kotak.

“Dari delapan sampai 10 kotak turun menjadi tiga sampai empat kotak saja. Kalau pasokan berkurang sejauh itu sementara kebutuhan masyarakat tetap ada, tekanan terhadap harga pasti semakin besar,” ujarnya.

Selain peningkatan permintaan, Dahlan menyoroti persoalan rantai pasok ayam potong. Industri ayam memiliki keterbatasan biologis karena membutuhkan waktu pemeliharaan sebelum ayam dapat dipasarkan.

Artinya, ketika permintaan meningkat secara tiba-tiba, produksi tidak dapat langsung ditambah hanya dalam hitungan hari.

Situasi tersebut dapat menimbulkan supply shock atau guncangan penawaran. Ketika gangguan pasokan terjadi bersamaan dengan peningkatan permintaan, kenaikan harga dapat berlangsung lebih cepat dan lebih tinggi.

“Pasokan ayam tidak bisa serta-merta dilipatgandakan ketika permintaan tiba-tiba naik. Ada siklus produksi yang membutuhkan waktu. Karena itu, kalau permintaan meningkat cepat sementara pasokan tertahan, harga akan terdorong naik,” kata Dahlan.

Dahlan meminta pemerintah melihat persoalan harga ayam dari hulu hingga hilir. Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya memantau harga di pasar atau meminta pedagang menahan harga.

Sebab, pedagang berada di bagian akhir rantai distribusi dan belum tentu menjadi penyebab utama kenaikan harga.

Ia meminta mata rantai perdagangan ayam, mulai dari peternak, distributor, tengkulak hingga pemasok dalam jumlah besar diperiksa secara transparan.

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui titik terjadinya penyempitan pasokan sekaligus memastikan tidak ada distorsi distribusi yang membuat harga semakin tinggi.

“Pemerintah jangan cuma diam atau asal menekan pedagang kecil di pasar tradisional kalau harga naik. Tata kelola dan mata rantai distribusi pangan harus diperiksa secara transparan supaya akar masalahnya ketemu,” ujarnya.

MBG Perlu Diimbangi Penguatan Produksi

Menurut Dahlan, pemerintah juga perlu memperkuat produksi dan logistik sebelum menjalankan kebijakan yang berpotensi meningkatkan permintaan dalam jumlah besar.

Dengan demikian, kebutuhan program pemerintah dapat dipenuhi tanpa mengurangi pasokan ayam untuk pasar umum.

Ia menilai MBG merupakan program yang memiliki tujuan baik dan perlu didukung. Namun, keberhasilan program tersebut tidak cukup hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan bahan pangan bagi penerima manfaat.

Dampaknya terhadap harga dan ketersediaan pangan di pasar juga perlu diperhitungkan.

“Niat mulia dari program MBG untuk mengerek gizi anak bangsa tentu harus didukung penuh. Tetapi eksekusinya wajib dibarengi dengan penguatan produksi dan logistik yang matang,” kata Dahlan.

Ia mengingatkan pemerintah agar pedagang kecil dan konsumen tidak menjadi pihak yang menanggung dampak dari perubahan struktur permintaan.

Menurutnya, kebijakan pangan harus mampu menjaga dua kepentingan sekaligus: memenuhi kebutuhan program pemerintah dan memastikan masyarakat tetap memperoleh pangan dengan harga terjangkau.

“Jangan sampai program pemerintah berjalan sukses, tetapi rakyat kecil di pasar malah dikorbankan dan dipaksa menanggung beban harga pangan yang makin mencekik,” ujar Dahlan.