RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Provinsi Riau. Hingga kini, sejumlah wilayah masih dilanda kebakaran, dengan kondisi paling mengkhawatirkan berada di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edy Afrizal, mengatakan kebakaran masih ditemukan di beberapa wilayah, yakni Kerumutan di Kabupaten Pelalawan, Rimbo Panjang dan Tapung di Kabupaten Kampar, serta Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru.
Menurut Edy, dibandingkan wilayah lainnya, kondisi kebakaran di Kerumutan masih cukup besar. Sementara titik api di sejumlah lokasi lain mulai berkurang dan sebagian besar tinggal menyisakan asap tipis.
"Kerumutan (Pelalawan), Rimbo Panjang dan Tapung (Kampar), dan Tenayan (Pekanbaru)," kata Edy Afrizal, Sabtu, 22 Agustus 2025.
Ia menjelaskan, kondisi di sejumlah lokasi tersebut saat ini terus ditangani oleh tim gabungan. Di beberapa titik, api sudah berhasil dikendalikan dan petugas kini melakukan proses pendinginan untuk memastikan bara api tidak kembali menyala.
"Yang agak besar di Kerumutan. Yang lainnya sudah tinggal asap-asap tipis dan lagi dilakukan pendinginan," jelasnya.
Namun, upaya pemadaman karhutla di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala. Akses menuju lokasi kebakaran yang sulit, keterbatasan sumber air, serta banyaknya bahan bakar potensial di lahan membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.
Selain itu, kondisi cuaca juga menjadi tantangan. Tiupan angin yang cukup kencang dapat membuat api dengan cepat menjalar, terutama pada kawasan yang memiliki vegetasi dan material mudah terbakar.
"Akses sulit, sumber air minim, bahan bakar potensial banyak, angin kencang," jelas Edy.
Berdasarkan laporan harian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), titik panas dan luas lahan terbakar tahun 2026 per Jumat, 21 Agustus 2026, Kabupaten Pelalawan menjadi salah satu wilayah dengan angka hotspot dan luas lahan terbakar yang cukup tinggi.
Titik panas di Pelalawan mencapai 2.563 titik, dengan 25 titik api dan luas lahan terbakar mencapai 4.629,39 hektare. Pada laporan harian tersebut juga disebutkan bahwa luas lahan di Pelalawan masih dalam proses perhitungan.
Kondisi tersebut sejalan dengan keterangan BPBD Riau bahwa kebakaran yang relatif besar saat ini berada di kawasan Kerumutan.
Kabupaten Bengkalis tercatat memiliki angka lebih tinggi dalam akumulasi luas lahan terbakar, yakni 8.407,40 hektare, dengan 3.880 titik panas dan 54 titik api. Dumai tercatat 846 titik panas dan 38 titik api dengan luas 556,01 hektare.
Sementara Indragiri Hilir memiliki 760 titik panas, 54 titik api dan luas lahan terbakar 872,02 hektare. Indragiri Hulu mencatat 521 titik panas, 37 titik api, dan luas 535,22 hektare.
Di wilayah lainnya, Rokan Hilir tercatat memiliki 602 titik panas BMKG, 17 titik api dan luas 452,53 hektare. Siak memiliki 373 hotspot, 69 titik api dan luas 314,77 hektare.
Kemudian Meranti mencatat 105 titik panas dan 15 titik api dengan luas 202,42 hektare. Kampar memiliki 230 titik panas, 45 titik api dan luas 126,46 hektare. Kuantan Singingi tercatat 154 titik panas, 17 titik api dan luas 68,98 hektare.
Untuk Kota Pekanbaru, laporan mencatat 18 titik panas, 123 titik api dan luas lahan terbakar mencapai 67,18 hektare. Sedangkan Rokan Hulu memiliki 190 titik panas, 15 titik api dan luas 32,46 hektare.
Secara keseluruhan, laporan tersebut mencatat 10.242 titik panas BMKG, 509 titik api, dengan total luas lahan terbakar mencapai 16.264,84 hektare.
Pada penambahan harian, tercatat 72 titik panas dan tambahan luas lahan terbakar sekitar 9,27 hektare. Upaya penanganan juga terus dilakukan dengan pendinginan terhadap delapan titik asap dan pemadaman terhadap 10 titik.
Penanganan karhutla di Riau melibatkan personel dari berbagai unsur, mulai dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), pemadam kebakaran hingga masyarakat.
Di Pelalawan, misalnya, tim BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, RPK PT GH, RPK PT SLS, MPA dan masyarakat terlibat dalam penanganan karhutla.
Di Kampar, penanganan melibatkan BPBDPK Riau, BPBD Kampar, Manggala Agni Pekanbaru, TNI, Polri, MPA dan masyarakat.
Sementara di Pekanbaru, BPBD bersama TNI, Polri dan RPK PT PHR turut melakukan penanganan. Upaya pemadaman juga diperkuat melalui dukungan operasi udara.
Berdasarkan laporan tersebut, sejumlah helikopter dan pesawat dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla, termasuk operasi pengeboman air dan rekayasa cuaca.
Untuk wilayah Kerumutan, dukungan udara menjadi penting karena kondisi medan yang sulit dijangkau melalui jalur darat serta keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Kondisi ini membuat petugas harus bekerja ekstra untuk mencegah api kembali meluas.
BPBD Riau memastikan penanganan terus dilakukan, terutama pada lokasi yang masih memiliki api aktif. Sementara titik-titik yang sudah berhasil dipadamkan terus dipantau dan dilakukan pendinginan.

