Pengabdian Masyarakat, 78 Warga Pebatuan Terdeteksi Hipertensi Hingga Diabetes

posyandu-pebatuan-kulim.jpg
Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Posyandu Permata, Kamis, 13 Agustus 2026 (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU — Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan pengendalian hipertensi dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Pebatuan, Kecamatan Kulim, Kota Pekanbaru. Kegiatan yang dilaksanakan pada 11–15 Agustus 2026 tersebut melibatkan kader posyandu, lansia, keluarga, serta masyarakat yang memiliki faktor risiko hipertensi. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya deteksi dini sekaligus edukasi mengenai pengendalian faktor risiko hipertensi, baik melalui pendekatan farmakologis maupun nonfarmakologis. Sebanyak 78 orang dari lima posyandu di Kelurahan Pebatuan mengikuti rangkaian kegiatan pemeriksaan dan edukasi. Kelima posyandu tersebut adalah Posyandu Mutiara, Posyandu Permata, Posyandu Mekar Indah, Posyandu Kenanga, dan Posyandu Bunga Ros. 

Hasil pemeriksaan menunjukkan temuan yang perlu mendapat perhatian. Dari 78 peserta, 41 orang atau 52,56 persen teridentifikasi mengalami hipertensi. Rinciannya, 28 orang mengalami hipertensi derajat I, 9 orang hipertensi derajat II, dan 4 orang hipertensi derajat III. Selain tekanan darah, peserta juga menjalani pemeriksaan kadar gula darah, pengukuran tinggi dan berat badan, serta pengisian kuesioner faktor risiko. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 10 orang (12,82 persen) dengan kadar gula darah di atas 200 mg/dL dan 28 orang (35,89 persen) berada pada kategori pradiabetes berdasarkan kriteria pemeriksaan yang digunakan dalam kegiatan.

Kader Posyandu Jadi Garda Terdepan

Kegiatan ini juga menempatkan kader posyandu sebagai mitra penting dalam deteksi dini dan edukasi kesehatan masyarakat. Kader dari lima posyandu berperan dalam mengumpulkan peserta, membantu pelaksanaan kegiatan, serta mendukung keberlanjutan edukasi setelah kegiatan pengabdian selesai.



Pelaksanaan kegiatan juga menghadapi sejumlah tantangan. Sebagian besar peserta merupakan lansia yang memiliki keterbatasan mobilisasi sehingga beberapa di antaranya harus dijemput oleh kader. Keterbatasan penglihatan juga menyebabkan sebagian lansia membutuhkan bantuan mahasiswa dalam membaca dan mengisi kuesioner serta lembar pre-test dan post-test.

Kondisi tersebut justru menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis masyarakat dan penguatan peran kader dalam mendukung pelayanan kesehatan bagi kelompok lansia. 

Edukasi Tidak Berhenti di Ruang Penyuluhan

Dalam kegiatan penyuluhan, peserta juga mendapatkan contoh makanan sehat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain telur rebus, berbagai jenis umbi-umbian, labu, jagung, dan pisang, serta edukasi mengenai cara pengolahan sayuran yang sesuai bagi penderita hipertensi.

Materi juga disesuaikan dengan kondisi peserta yang memiliki penyakit penyerta. Dalam diskusi, sejumlah peserta menyampaikan bahwa mereka tidak hanya mengalami hipertensi, tetapi juga memiliki diabetes mellitus atau asam urat sehingga pilihan makanan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pemeriksaan dan penyuluhan, tetapi dapat menjadi awal penguatan deteksi dini faktor risiko hipertensi di tingkat masyarakat melalui pemberdayaan kader. Melalui kegiatan tersebut, pengendalian hipertensi di tingkat masyarakat diharapkan semakin kuat, terutama melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader posyandu, keluarga, dan masyarakat dalam melakukan deteksi dini serta menerapkan pola hidup sehat secara berkelanjutan. 

Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Riau terdiri dari Syafrisar Meri Agritubella, Ners., M.Kep, Fathul Jannah, S.Farm., M.Sc, Apt, dan Ns. Hj. Masnun, SST, S.Kep, M. Biomed dan 3 orang mahasiswa yaitu Olivia Ramadhanis, Dini dan Kesa dan pembantu lapangan Sabrina dan Winda.