Dampak Konflik Global, Harga Plastik Naik Hingga 50 Persen di Pasar Lokal Pekanbaru

Ilustrasi-plastik2.jpg
Ilustrasi plastik (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Harga berbagai produk plastik di pasaran mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai 50 persen. Kenaikan ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku plastik dari Timur Tengah akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya biaya produksi, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pedagang pasar yang bergantung pada kemasan plastik. Dampaknya, harga sejumlah komoditas dan makanan kemasan juga berpotensi ikut naik.

Pengamat ekonomi Riau, Dahlan Tampubolon, menjelaskan plastik merupakan produk turunan minyak bumi, khususnya dari bahan baku bernama nafta (naphtha). Gangguan distribusi minyak mentah dunia akibat ketegangan di kawasan Selat Hormuz menjadi faktor utama melonjaknya harga.

“Kita tahu plastik itu bukan dibuat dari tepung kanji, tapi dari produk turunan minyak bumi, namanya naphtha. Begitu Selat Hormuz diblokade, harga minyak mentah dunia langsung melambung karena pasokan tersumbat,” ujarnya, Senin 6 April 2026.

Ia menambahkan, kenaikan harga bahan baku di pasar global membuat pabrik kimia internasional lebih dulu menaikkan harga biji plastik. Hal ini kemudian berdampak pada harga produk turunan di dalam negeri.

“Pabrik kimia di luar sana sudah duluan menaikkan harga biji plastik karena mereka beli bahan baku pakai harga dunia, bukan harga subsidi pemerintah kita. Jadi wajar kalau kantong plastik, botol mineral, sampai bungkus kerupuk ikut naik,” jelasnya.


Dahlan menyebut fenomena ini sebagai cost-push inflation, yakni kenaikan harga yang dipicu oleh meningkatnya biaya produksi sebelum harga energi di tingkat domestik mengalami perubahan.

Selain faktor pasokan, ia juga menyoroti peran psikologi pasar dan spekulasi pelaku usaha. Menurutnya, para importir dan pelaku industri sudah lebih dulu mengantisipasi kenaikan biaya logistik akibat risiko jalur pelayaran dan mahalnya asuransi perang.

“Begitu ada kabar Selat Hormuz terganggu, para pelaku usaha sudah bersiap. Mereka tahu ongkos pengiriman bakal mahal, jadi harga barang dinaikkan lebih awal untuk mengamankan stok,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dahlan menegaskan plastik memiliki peran vital dalam rantai distribusi barang. Hampir seluruh produk membutuhkan kemasan, sehingga kenaikan harga plastik akan berdampak luas ke berbagai sektor.

“Plastik itu ‘nyawa’ distribusi. Semua barang butuh bungkus. Kalau harga plastik naik, otomatis biaya kemasan naik. Jadi jangan heran kalau harga sabun, minyak goreng, sampai sparepart kendaraan ikut terdorong naik,” katanya.

Ia menambahkan, dampak dari gejolak global tersebut kini mulai dirasakan hingga ke tingkat lokal, termasuk di pasar tradisional.

“Selat Hormuz itu seperti keran dunia. Kalau tersumbat, dampaknya bukan hanya di Timur Tengah, tapi sampai ke bungkus gorengan di pinggir jalan Sudirman Pekanbaru pun ikut terasa,” tutupnya.