RIAU ONLINE, PEKANBARU - Suku Champa adalah nenek moyang bangsa Melayu yang berasal dari hulu Sungai Mekong di selatan China di daerah Yunnan dan berimigrasi ke Asia Tenggara menelusuri aliran Sungai Mekong ribuan tahun yang lalu.
Suku Champa merupakan keturunan Kerajaan Champa. Kerajaan yang berkaitan dengan Wali Songo ini berjaya di masa lampau, namun kini kondisinya cukup memprihatinkan, terutama Suku Champa yang mendiami Kamboja.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Biro Travel Tigo Balai, Osvian Putra. Menurut Osvian kondisi muslim Champa sungguh memprihatinkan dan minim perhatian dari dunia.
"Maaf-maaf kata, Muslim Indonesia kan lebih care dengan Yordania atau Palestina, sementara ada muslim yang jauh lebih dekat dengan kita. Saya sering bolak balik Kamboja, Kamboja salah satu negara miskin. Penduduknya ada sekitar 16 juta dengan komposisi muslim sekitar 1 juta," ungkap Osvian kepada RIAUONLINE.CO.ID, Rabu, 4 Juli 2018.
Kondisi kemiskinan muslim Kamboja diperparah dengan adanya fenomena perkawinan muslimah Kamboja dengan non muslim Kamboja, dimana banyak muslimah yang menjadi korban.
"Banyak kasus muslim yang dikawini non muslim, nanti dia banyak anak, ditinggal sama suaminya karena sudah tidak sanggup membiayai," tambahnya.
Selama ini, lanjut Osvian, negara yang memberi perhatian kepada muslim Kamboja baru dari negara Malaysia dimana banyak muslim Malaysia yang melakukan tour guna melihat kondisi real muslim di sana.
"Selama ini yang banyak membantu itu Malaysia, muslim Malaysia banyak berkunjung dan memberi bantuan, seperti beasiswa kepada SDM muslim Kamboja," katanya.
"Seandainya ada yang punya pesantren atau yayasan, beri beasiswa untuk mereka, karena mereka juga saudara kita," ulasnya.
Diterangkan Osvian, di DPR-nya Kamboja, hanya ada satu orang muslim sehingga kepentingan muslim di sana tidak terlalu diakomodir.
"Saya punya kenalan dengan anggota DPR RI nya Kamboja, dia satu-satunya pejabat muslim. Jadi kepentingan muslim tidak terlalu diakomodir," katanya lagi.
Untuk itu, Osvian yang kebetulan memiliki usaha biro perjalanan, mengajak muslim Indonesia untuk melihat langsung keadaan real muslim di sana.
Selain bisa melihat kondisi real di sana, muslim Indonesia khususnya Pekanbaru juga bisa mengembangkan usaha di sana, mengingat tingginya potensi prospek ekonomi di sana dan investasi sedang getol-getolnya.
"Di Kamboja baru saja kenal istilah kredit, dulu orang sana beli motor, rumah harus cash, tapi ada pensiunan BNI orang Pariaman Sumbar yang menerapkan sistem kredit di sana, jadi ada peluang usaha juga di sana," jelasnya.
Biro travelnya tersebut menawarkan paket trip berwisata sambil beramal ke Phnompenh, ibu kota Kamboja pada 20-23 Agustus nanti.
"Berangkatnya tanggal 20, 4 hari 3 malam. Kita akan salat Ied di kampung tersebut, menyaksikan pemotongan hewan qurban yang kita sumbangkan dari paket ini, dan kita juga akan berbaur dengan masyarakat setempat," jelas Osvian.
Namun, jika ada masyarakat Pekanbaru yang hanya ingin menyumbangkan uang untuk hewan qurban, pihaknya juga akan menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat sana.
"Saya melihat daerah kita saat ini kurban sudah berlebih, kalaupun ada yang bilang kurang. Itu kasualistis. Jadi kalau ingin menyumbang untuk hewan qurban di sana, bisa juga disalurkan," lanjutnya.
Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi Osvian Putra 08127530090.

