Ustaz Mutumba Syok Berat karena Sudah Menikahi Lelaki

Ilustrasi-pasangan-yang-sudah-Menikah.jpg
(Shutterstock)

RIAU ONLINE, KAMPALA-Seorang ustaz harus mendapatkan konseling dan diberikan waktu untuk beristirahat karena merasa syok berat. Ustaz Sheikh Mohammed Mutumba yang bertugas sebagai Imam Masjid itu merasa trauma karena menikah dengan seorang laki-laki.

Sebelumnnya, Mutumba, yang berusia 27 tahun tersebut menikahi Swabullah Nabukeera, seseorang yang mengaku perempuan, namun pada akhirnya diketahui bahwa Nabukeera adalah laki-laki.

Dilansir dari Oddity Central, Mutumba dan Nabukeera menikah dengan tradisi Islami yang kental namun tetap sederhana sekitar sebulan lalu. Lewat gambar yang diambil saat prosesi pernikahan mereka, nampak keduanya tersenyum semringah dan memancarkan aura bahagia. Kebahagiaan itu diamini juga oleh salah satu pekerja di Masjid, Amisi Kibunga, yang mengatakan tak ada satu pun orang di acara pernikahan tersebut merasa ada yang salah dengan mempelai 'perempuan'.

Namun cerita aneh mulai datang empat hari pasca pesta pernikahan. Kata Amisi, Mutumba sempat mengeluh bahwa istrinya belum mau disetubuhi, bahkan tak mau melepas pakaian gamisnya saat tidur sekali pun. Tapi Nabukeera tetap menjalankan 'tugas istri' pada umumnya seperti memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah.

Semua kebohongan Nabukeera terungkap ketika 'istri' Imam tersebut kedapatan hendak mencuri perangkat televisi tetangganya dan pakaian. Ketika polisi datang, pihak kepolisian menggeledah seluruh yang ada di badan Nabukeera dan saat itu lah diketahui bahwa istri Ustaz ini seorang laki-laki.

Nabukeera kemudian mengakui bahwa nama aslinya adalah Richard Tumushabe. Ia mengaku menikahi Mutumba dengan niat ingin merampas semua harta benda pasanganmya.

Mutumba mengaku mengenai Nabukeera alias Richard lewat bibinya, Nuuru Nabukeera. Nuuru juga ikut diselidiki oleh pihak berwajib, meski demikian Nuuru tetap bersikukuh bahwa dirinya tidak tahu apa-apa. Sementara untuk Mutumba, ia tengah istirahat dari pekerjaannya sebagai pemuka agama, pindah ke rumah saudara dan mendapat bimbingan konseling.

Artikel ini sudah terbit di Suara.com