Sedih Banget, Pelatih Top Ini Pernah Dimarahi hingga Dicuekin Pemain

Maurizio-Sarri.jpg

RIAU ONLINE, ITALIA-Buat Maurizio Sarri, Inggris boleh jadi merupakan tempat yang menyebalkan. Bagaimana tidak? Meskipun hanya melatih selama satu tahun di Inggris, Sarri menghadapi berbagai macam kesialan. 

Sarri bekerja buat Chelsea di 2018/2019 sebelum akhirnya kembali ke Italia untuk melatih Juventus. Nah, dalam masa kepemimpinannya di Chelsea, pelatih berusia 60 tahun itu pernah bersitegang dengan salah satu pemain.


Menariknya, pemain yang bersitegang dengan Sarri itu bukanlah kapten tim atau pemain bintang, melainkan ‘hanya’ sekadar kiper ketiga. Ya, pemain yang dimaksud adalah Robert Green. 
Green, kepada The Athletic, menyatakan bahwa ia pernah menghardik Sarri di depan penggawa Chelsea. Kejadian ini berlangsung pada Februari 2019, sehari setelah Chelsea dihancurkan Manchester City dengan skor 0-6.


Green menyadari bahwa rekan-rekannya frustrasi, tetapi takut bicara kepada Sarri. Dari situ, Green, nothing to lose, memutuskan untuk buka suara. 
Robert Green

“Rekan-rekan saya bilang, ‘Kami peduli dengan tim ini’ tetapi mereka tak bicara banyak. Saya tak bisa menerima ini,” kata Green. 

“Saya lalu bilang kepada Sarri, ‘Lihat, posisi Anda di klub ini sedang sulit-sulitnya. Saya paham bahwa banyak hal yang terjadi di klub ini yang saya dan Anda bisa lihat, tetapi orang lain tidak’. Setelah itu, saya tak menahan diri.”


“Saya langsung bilang, ‘Anda tak punya rencana B. Anda adalah pelatih yang transaksional. Pemain lain tak berani bicara kepada Anda seperti ini. Mereka peduli, tetapi tak berani. Sementara, saya tak peduli apa yang akan Anda lakukan—Anda mau menaruh saya di bangku cadangan?’,” lanjut Green.


Chelsea, di awal 2019, memang mendapatkan segelintir hasil buruk. Dua minggu sebelum digilas City, The Blues takluk dari Bournemouth dengan skor 0-4. 
Yang disinyalir menjadi masalah adalah keras kepalanya Sarri sebagai pelatih. Eks pelatih Napoli itu kerap kali memaksakan skema dan taktik yang buruk. 

Itulah yang membuat Green menghardik sang pelatih di depan umum. Namun, apakah Sarri insaf? Menurut Green, sih, tidak. 

“Saya bicara selama 15 menit. Banyak pemain bilang kepada saya, ‘Kamu mengatakan apa yang saya ingin katakan’. Tentu saja, kalau mereka bicara, tempat mereka bisa terancam. Dua asisten, Gianfranco Zola dan Carlo Cudicini, juga bicara, dan itu brilian.”


“Bagaimana Sarri menanggapi itu? Kami semua berjalan keluar ruangan, dan ia menunggu saya di pintu. Saya berpikir, ‘Oh tidak, habislah saya’ tetapi ia malah menjabat tangan saya dan bilang, ‘Terima kasih, itu adalah pertama kalinya seseorang membuat saya berpikir’. Kenyataannya, ucapan saya tak mengubah apa-apa,” tambah Green. 
Lucunya, Green tak menjadi satu-satunya kiper Chelsea yang pernah berkonflik dengan Sarri. Ya, kiper utama Chelsea, Kepa Arrizabalaga, pernah membuat Sarri murka kala menolak digantikan menjelang adu penalti pada final Piala Liga versus City. 

Untungnya, baik Sarri dan Kepa mengakui bahwa mereka salah paham.


Sarri juga beberapa kali disoraki oleh suporter Chelsea. Pelatih berusia 60 tahun itu sampai-sampai menyatakan bahwa ia terbiasa menghadapi sorakan itu. 
Menariknya, Sarri mengakhiri kiprahnya bersama Chelsea dengan baik. Ia sukses membawa klub asal London itu finis di peringkat tiga Premier League, dan menjuarai Liga Europa.

Artikel ini sudah terbit di Kumparan.com