Kolaborasi Perkuat Kapasitas 176 Kader Posyandu untuk Dukung Pencegahan Stunting di Dumai

pelatihan-kader-posyandu-di-dumai.jpg
Kunjungan ke Posyandu Sejahtera Buluh Hala menjadi kesempatan untuk melihat langsung layanan kesehatan ibu dan anak serta berdialog dengan masyarakat di Kelurahan Sungai Geniot, Dumai. (Dok. Sinarmas)

RIAU ONLINE, DUMAI - Sebanyak 176 kader dari 41 pos pelayanan terpadu (posyandu) di Kecamatan Sungai Sembilan dan Dumai Kota mengikuti pelatihan untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mendukung upaya pencegahan stunting. Melalui pelatihan ini, para kader memperoleh pembekalan mengenai implementasi enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) Posyandu, sekaligus penerapannya dalam kegiatan sehari-hari saat mendampingi masyarakat.

Pelatihan ini merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara PT Ivo Mas Tunggal (IMT), anak usaha Sinar Mas Agribusiness and Food, bersama PT Energi Sejahtera Mas (ESM) dari Sinar Mas Cepsa, Tzu Chi Sinar Mas, dan ADM, dalam mendukung upaya Pemerintah Kota Dumai memperkuat layanan Posyandu. Kolaborasi ini mencerminkan komitmen bersama para pihak dalam meningkatkan kesehatan dan gizi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

Kegiatan ini turut dihadiri Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, yang diwakili oleh Mita Apriyanti, Asisten Deputi Kesehatan, Gizi, dan Pembangunan Keluarga (Asdep KGPK) Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia.

Mita mengatakan penurunan prevalensi stunting secara nasional dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 19,8 persen pada 2024 merupakan capaian yang patut diapresiasi, meski tantangan yang dihadapi masih membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak.

"Stunting bukan hanya persoalan gizi, tetapi juga berkaitan dengan kualitas pengasuhan, akses sanitasi, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat. Karena itu, percepatan penurunan stunting tidak bisa hanya mengandalkan intervensi kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak," ujarnya.

Mita berharap praktik kolaborasi yang dilakukan di Dumai dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang ingin memperkuat pencegahan stunting melalui kemitraan lintas sektor.

Pembekalan tersebut menjadi semakin relevan lantaran stunting masih menjadi tantangan di Kota Dumai. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di kota ini tercatat sebesar 16,9 persen. Meski angka tersebut berada di bawah rata-rata nasional, hal ini tetap menunjukkan perlunya komitmen jangka panjang dan kolaborasi berkelanjutan untuk mendorong kemajuan lebih lanjut.

Salah satu materi utama dalam pelatihan ini adalah implementasi enam SPM di Posyandu. Melalui materi tersebut, para kader memperkuat pemahaman mereka dalam mendukung pelayanan kesehatan, mulai dari edukasi kesehatan, pemantauan tumbuh kembang, hingga pendampingan kepada warga sesuai kebutuhan di lapangan. Pembekalan tersebut tidak hanya memperkaya pengetahuan para kader, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri mereka dalam mendampingi masyarakat melalui berbagai layanan Posyandu.



Widyawati, salah satu kader Posyandu Sejahtera di Kelurahan Sungai Geniot, mengatakan pelatihan ini bukan sekadar menambah materi baru, tetapi juga memperkaya cara mereka mendampingi masyarakat dalam kegiatan posyandu sehari-hari.

"Melalui pelatihan ini saya lebih memahami penerapan enam Standar Pelayanan Minimal di Posyandu. Kami juga bertukar pengalaman dengan kader dari wilayah lain sehingga mendapat banyak pembelajaran baru," ujar dia.

Dalam kesehariannya, Widyawati bersama kader lainnya tidak hanya melakukan penimbangan dan pengukuran balita. Mereka juga menyiapkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), mengantarkannya kepada anak yang mengalami stunting, hingga memastikan makanan tersebut benar-benar dikonsumsi.

Senada, Fahmi Rizal, Sekretaris Daerah Kota Dumai, mengatakan kader posyandu berperan penting dalam mendampingi masyarakat sehingga perlu terus memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru.

"Kader posyandu perlu terus diperkuat agar dapat memberikan pelayanan yang semakin baik kepada masyarakat. Semoga kolaborasi ini juga dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk bersama-sama mendukung upaya pencegahan stunting," katanya.

Komitmen tersebut turut ditegaskan melalui penandatanganan Komitmen Percepatan Penurunan Stunting Kota Dumai oleh Sekretaris Daerah Kota Dumai bersama perwakilan Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia. Penandatanganan ini menjadi simbol komitmen bersama untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung upaya pencegahan stunting yang berkelanjutan.

Komitmen tersebut tidak berhenti di ruang pelatihan. Bersama Pemerintah Kota Dumai dan Tzu Chi Sinar Mas, tim Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia meninjau Posyandu Sejahtera Buluh Hala di Kelurahan Sungai Geniot, Unit Pelayanan Terpadu Ibu dan Anak di Puskesmas Sungai Sembilan, serta Puskesmas Pembantu (Pustu) Laksamana.

Seluruh pihak berdialog dengan kader Posyandu, tenaga kesehatan, ibu hamil, ibu menyusui, orang tua balita, hingga lansia untuk melihat secara langsung pelaksanaan layanan kesehatan di tingkat masyarakat. Kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk mendengar langsung aspirasi warga sekaligus memahami berbagai peluang dan tantangan dalam upaya pencegahan stunting, guna memastikan inisiatif tetap selaras dengan kebutuhan masyarakat.

Menutup rangkaian kegiatan tersebut, Paulus Tumanggor, General Manager PT Ivo Mas Tunggal, mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam memastikan berbagai program kesehatan masyarakat dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.

"Kami mengapresiasi dukungan Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia, Pemerintah Kota Dumai, ADM, Tzu Chi Sinar Mas, serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam inisiatif ini. Sinergi seperti inilah yang memungkinkan berbagai upaya di lapangan dapat terus berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berkembang untuk mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di Dumai," ujarnya.

Melalui penguatan kapasitas kader Posyandu, penandatanganan komitmen bersama, dan peninjauan langsung terhadap layanan kesehatan di tingkat masyarakat, kolaborasi ini diharapkan dapat semakin memperkuat upaya pencegahan stunting di Kota Dumai. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta,