RIAU ONLINE, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus melemah hingga mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS. Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, rupiah akan Kembali menguat dalam Waktu dekat.
Purbaya mengungkapkan, rupiah akan bergantung pada fundamental ekonomi. Selain itu, dia juga optimis karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat ke level 9.133 sehingga ia melihat akan banyak suplai dolar AS yang masuk.
"Anda lihat IHSG berapa? all time high kan? 9.133. Kalau indeks naik ke situ pasti ada flow asing masuk ke situ juga, kan? Enggak mungkin domestik sendiri yang bisa mendorong itu ke level yang seperti itu," kata Purbaya, dikutip dari KUMPARAN, Senin, 19 Desember 2026.
"Jadi tinggal tunggu waktu aja rupiahnya menguat juga. Karena suplai dolar akan bertambah," tambah Purbaya.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 13.14, rupiah tercatat anjlok 39 poin atau 0,23 persen ke level 16.925 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah yang sudah terjadi sejak pekan lalu.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari faktor fiskal dalam negeri yang dinilai belum solid.
Rilis terbaru mengenai kondisi anggaran negara menjadi salah satu pemicu utama gejolak di pasar valuta asing. Sebagai catatan, defisit APBN 2025 mencapai 2,92 persen terhadap PDB.
Selain faktor domestik, tekanan terbesar justru datang dari luar negeri. Ketegangan geopolitik global dan eskalasi perang dagang dinilai memberikan dorongan kuat terhadap penguatan dolar AS sebagai aset aman, sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

