RIAU ONLINE, PEKANBARU – Di tengah meningkatnya jumlah pengangguran muda di Indonesia, terutama dari kelompok Gen Z, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menilai penguatan UMKM menjadi salah satu solusi mendesak untuk menekan angka pengangguran.
Hal itu disampaikan Ketua Umum DPN Apindo, Shinta Wijaya Kamdani, dalam Dialog Ekonomi “Sinergi Stakeholder dan Inovasi UMKM Berkelanjutan” yang digelar DPP Apindo Riau di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Selasa, 9 Desember 2025.
Dalam pemaparannya, Shinta menyoroti gambaran ketenagakerjaan nasional yang semakin kompetitif. Setiap tahun Indonesia kedatangan 2–4 juta tenaga kerja baru. Yang memprihatinkan, 67 persen dari total pengangguran adalah Gen Z berusia 15–29 tahun.
Ditambah lagi, 57 juta pekerja di Indonesia berada dalam kategori rentan tanpa perlindungan sosial memadai.
"57 juta pekerja yang berada di pekerjaan rentan tanpa perlindungan sosial memadai,” ungkapnya.
Menurut Shinta, untuk menjawab persoalan ini, Indonesia harus memperkuat industrialisasi sekaligus memperluas basis kewirausahaan. Rasio wirausaha yang baru 3,35 persen dinilai belum cukup menopang kebutuhan penduduk usia produktif yang semakin besar.
Apindo mendorong UMKM sebagai sektor penyangga utama ekonomi sekaligus pintu masuk bagi penciptaan lapangan kerja baru. Dari 56,1 juta UMKM di Indonesia, 97 persen pekerja diserap oleh sektor ini.
Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas masih 15,65 persen. Ini menunjukkan perlunya percepatan inovasi dan peningkatan kualitas usaha agar UMKM masuk rantai nilai global.
"Untuk menjawab tantangan tersebut, APINDO meluncurkan program APINDO UMKM Merdeka, sebuah laboratorium pembelajaran nyata yang mempertemukan mahasiswa, UMKM, akademisi, industri, dan pemerintah," jelasnya.
Tak hanya berfokus pada pelatihan, program ini juga fokus pada pendampingan strategis yang membuat UMKM dapat meningkatkan kualitas manajemen, pola pikir, dan daya saing.
Hingga Desember 2024, program ini telah melibatkan 17 provinsi, 269 universitas, 1.099 mahasiswa, 108 pembimbing akademik, 115 mentor industri, dan menggandeng 27 perusahaan mitra. Hasilnya, 50.011 UMKM telah terdigitalisasi dalam pemasaran dan 13.030 UMKM beralih ke sistem keuangan digital.
"Data ini membuktikan bahwa pendampingan yang tepat, berbasis inovasi dan digitalisasi, mampu mendorong UMKM untuk naik kelas," ujarnya.
Menurut Shinta, inisiatif ini bisa menjadi kunci untuk mengurangi pengangguran Gen Z dengan memperkuat skill, membuka akses ke dunia industri, serta membangun ekosistem kewirausahaan baru yang lebih adaptif.

