RIAU ONLINE, KUANSING - Seorang oknum pimpinan pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau diduga melakukan pencabulan terhadap seorang santriwati hingga melahirkan.
Menurut informasi yang dihimpun, saat itu, Selasa, 7 Juli 2026, sekelompok pemuda mendatangi rumah seorang perempuan yang diduga menjadi korban pelecehan seksual. Kedatangan itu dipicu kabar bahwa sedikitnya lima santriwati diduga menjadi korban tindakan asusila yang dilakukan oknum pimpinan ponpes berinisial I.
Satu di antara korban bahkan diduga telah mengalami pelecehan seksual sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, dugaan itu tidak pernah dilaporkan kepada aparat penegak hukum sehingga hanya menjadi pembicaraan tertutup di lingkungan masyarakat.
Kasus tersebut mulai terbongkar setelah seorang santriwati berusia sekitar 23 tahun dikabarkan melahirkan di kamar pondok pesantren. Setelah proses persalinan, korban kemudian dibawa ke sebuah klinik karena masih memerlukan penanganan medis akibat plasenta yang belum keluar.
Awalnya, perempuan tersebut disebut enggan mengungkap identitas ayah dari bayi yang dilahirkannya. Namun setelah didesak, ia diduga mengaku bahwa ayah bayi tersebut adalah oknum pimpinan pondok pesantren.
"Kabar santri melahirkan anak oknum pimpinan ponpes itu membuat kami geram dan ingin mengusut masalah ini agar tidak ada korban lainnya," ujar warga sekitar, yang enggan disebutkan namanya.
Pengakuan itu kemudian memunculkan dugaan bahwa tindakan pencabulan telah berlangsung selama beberapa tahun.
Meski demikian, berdasarkan informasi yang diperoleh, persoalan tersebut diduga sempat diselesaikan secara kekeluargaan sehingga tidak berlanjut ke proses hukum.
Keluarga para korban disebut memilih jalan damai karena merasa segan dan takut terhadap pengaruh terduga pelaku yang dikenal sebagai tokoh agama di wilayah tersebut.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait dugaan kasus tersebut.
Sementara itu, Kapolsek Singingi Hilir, Iptu Alfredo, belum bersedia memberikan keterangan karena sedang mengikuti kegiatan di salah satu desa.
"Belum bisa komentar. Masih acara di desa," ujarnya singkat.

