Heboh Puisi Sang Putri, Ini Rangkaian Kata Bung Karno untuk Indonesia

Soekarno.jpg
(INSTAGRAM MATAPADI/REPRO)

RIAU ONLINE - Presiden Sukarno tak hanya dikenal jago berorasi, ia juga pecinta seni yang juga membuat karya seni. Sukarno gemar menonton wayang kulit, mengoleksi lukisan, bermain sandiwara dan menulis naskahnya, bahkan menyulap rangkaian kata menjadi puisi.

Salah satu puisinya yang terkenal pernah dibacakan putri pertamanya Megawati Soekarnoputri saat membuka Kongres ke IV PDI perjuangan di Bali, 9 April 2015, berjudul "Aku Melihat Indonesia".

Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar Lautan Hindia bergelora
membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi
batang-batang padi yang menguning menghijau
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku melihat gunung-gunung
Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu
Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelebet
dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengarkan
Lagu-lagu yang merdu dari Batak
bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran
bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku
bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan burung Perkutut
menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi
bukan lagi aku mendengarkan burung Perkutut
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jikalau aku melihat wajah anak-anak
di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
"Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!"
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia

Darah seni Sukarno disebut mengalir dari sang Ibu, Nyoman Rai Srimben. Sebagian anak-anak Sukarno dari Fatmawati juga mewarisi bakat seni sang ayah. Si sulung, Guntur, pernah punya grup musik waktu kuliah di ITB, Megawati suka menari, dan Guruh berkiprah di musik dan tari, seperti dilansir dari detik.com, Rabu, 4 April 2018.

Diah Mutiara Sukmawati juga mewarisi bakat seni Sukarno, meski tak banyak mendapat publisitas seperti halnya Guruh. Dia menari, melukis, dan menulis. Konon dia bisa betah berlama-lama nongkrong di Taman Ismail Marzuki, berkumpul dengan rekan sesama seniman.

Pada 2011, Sukmawati menulis buku "Creeping Coup D'Tat Mayjen Suharto". Tapi dia baru menuai kontroversi saat membacakan puisi berjudul, "Ibu Indonesia" lantaran dinilai sejumlah pihak menyinggung pemeluk agama Islam.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE 

Follow Twitter @red_riauonline

Subscribe Channel Youtube Riau Online

Follow Instagram riauonline.co.id