RIAU ONLINE, PEKANBARU – Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo, mengungkap strategi Komjen Pol Herry Heryawan dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau saat menjabat Kapolda Riau.
Strategi tersebut dilakukan sejak dini, bahkan sejak April 2026, ketika ancaman fenomena El Nino mulai menjadi perhatian. Langkah antisipasi itu dilakukan sebelum kebakaran meluas, melalui koordinasi lintas sektor, pelibatan para ahli, hingga penguatan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
Hal itu disampaikan Bambang Hero saat menjadi narasumber dalam podcast bersama Deddy Corbuzier yang tayang pada 28 Oktober 2026.
Bambang menceritakan, Herry merespons serius informasi mengenai potensi El Nino yang saat itu disebut sebagai El Nino Godzilla. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan menghubungi sejumlah pihak untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla.
“Jenderal tahu enggak sekarang sedang ada El Nino support, El Nino Godzilla, apa itu?” kata Bambang mengingat percakapannya dengan Herry.
Setelah mendapatkan penjelasan mengenai potensi ancaman tersebut, Herry langsung melakukan koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah.
“Ya, kami kan sosialisasi itu. Nah, beliau telepon itu, Pak Kapolda, kemudian Wali Kota,” ujar Bambang.
Menurut Bambang, langkah tersebut menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang responsif terhadap informasi ilmiah dan masukan para ahli. Dengan demikian, upaya pencegahan dapat dilakukan sebelum kondisi lingkungan semakin kering dan risiko kebakaran meningkat.
Selain koordinasi sejak dini, Bambang mengapresiasi program Green Policing yang dikembangkan Herry selama memimpin Polda Riau.
Program tersebut memperluas peran kepolisian, tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.
Penanaman pohon, edukasi lingkungan, pelibatan generasi muda, serta koordinasi lintas sektor menjadi bagian dari pendekatan tersebut.
Bambang menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pengerahan personel ketika api sudah muncul. Pencegahan harus dilakukan secara konsisten dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
“Karena begitulah kepedulian Riau, pokoknya Riau jauh dari asap dan alhamdulillah kan sekarang terbukti itu,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, fenomena El Nino bukan penyebab utama karhutla. Fenomena iklim tersebut lebih berperan memperburuk kondisi lingkungan melalui peningkatan suhu dan kekeringan, sehingga lahan menjadi lebih mudah terbakar.
Karena itu, sumber api, terutama yang berasal dari aktivitas manusia, tetap harus dikendalikan melalui edukasi, pengawasan, dan penegakan hukum.
Bambang juga menyoroti perubahan posisi Riau dalam penanganan karhutla di tingkat nasional. Menurutnya, berbagai langkah antisipasi yang dilakukan selama kepemimpinan Herry menunjukkan hasil positif hingga Riau tidak lagi masuk dalam prioritas utama penanganan karhutla di Indonesia.
Ia mengaitkan capaian tersebut dengan upaya membangun sistem pencegahan sejak dini, penerapan Green Policing, koordinasi lintas sektor, serta keterlibatan para ahli dan pemerintah daerah.
Bagi Bambang, pengalaman Riau menunjukkan bahwa pencegahan yang direncanakan secara matang dan dijalankan secara konsisten dapat memberikan dampak nyata.
Ia bahkan menilai pendekatan tersebut layak menjadi contoh bagi daerah lain yang memiliki kawasan gambut dan tingkat kerawanan kebakaran tinggi.
“Dan ini kan, ini kan satu contoh yang luar biasa ya. It works! It works!” tegas Bambang.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian karhutla tidak semata-mata diukur dari banyaknya api yang berhasil dipadamkan, tetapi juga dari kemampuan mencegah kebakaran agar tidak terjadi.
Pengalaman Riau, lanjutnya, memperlihatkan pentingnya kepemimpinan yang responsif, antisipasi sejak dini, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi ancaman karhutla.
Melalui pendekatan Green Policing dan koordinasi lintas sektor, upaya menjaga Riau dari kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap diharapkan dapat terus berlanjut secara berkelanjutan.

