RIAU ONLINE, PEKANBARU – Ribuan titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera pada Kamis, 17 September 2026, sementara kualitas udara di Kota Pekanbaru pada waktu yang sama berada dalam kategori sangat tidak sehat. Kondisi ini menjadi perhatian di tengah masih berlangsungnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, sebanyak 4.737 titik panas (hotspot) terdeteksi di Sumatera pada Kamis, 17 September 2026.
Sebaran hotspot paling banyak berada di Sumatera Selatan dengan 3.200 titik, kemudian Jambi 511 titik, Bangka Belitung 503 titik, dan Lampung 241 titik.
Hotspot merupakan titik atau area yang terdeteksi memiliki suhu permukaan lebih tinggi dari kondisi di sekitarnya melalui pemantauan satelit. Dalam konteks Karhutla, hotspot dapat menjadi indikator adanya kebakaran atau kondisi yang berpotensi berkaitan dengan kebakaran, meski tidak setiap hotspot otomatis berarti kebakaran hutan dan lahan.
Ketika kebakaran menghasilkan asap dalam jumlah besar, partikel dan gas hasil pembakaran dapat terbawa oleh angin menuju wilayah lain. Karena itu, keberadaan ribuan hotspot di sejumlah wilayah Sumatera menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai dalam melihat potensi gangguan kualitas udara.
Kondisi tersebut relevan dengan kualitas udara Pekanbaru pada Kamis pagi. Pada pukul 08.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI⁺) tercatat mencapai 220 AQI⁺ US, atau masuk kategori sangat tidak sehat. Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi 145 µg/m³.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat berasal dari proses pembakaran, termasuk kebakaran hutan dan lahan. Partikel ini menjadi salah satu parameter penting dalam pemantauan kualitas udara.
Pada saat pemantauan, suhu Pekanbaru berada di sekitar 27 derajat Celsius, dengan kecepatan angin 4 km/jam dan kelembapan udara 80 persen.
Kecepatan angin yang relatif rendah menunjukkan bahwa pergerakan massa udara pada saat itu tidak terlalu cepat. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat membuat polutan lebih mudah bertahan atau terakumulasi di suatu wilayah, meski dampaknya tetap bergantung pada kondisi atmosfer secara keseluruhan.
Dengan demikian, ribuan hotspot di Sumatera menjadi indikator meningkatnya potensi sumber asap Karhutla, sedangkan tingginya PM2.5 dan AQI di Pekanbaru menunjukkan kondisi kualitas udara yang sedang terjadi di kota tersebut. Hubungan keduanya perlu dilihat bersama faktor meteorologi, terutama arah dan kecepatan angin serta pergerakan asap.
Masyarakat diimbau mewaspadai kualitas udara, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan gangguan pernapasan. Aktivitas di luar ruangan dapat dikurangi ketika kualitas udara memburuk dan penggunaan masker dapat dipertimbangkan saat harus beraktivitas di luar rumah.

