RIAU ONLINE, PEKANBARU – Warga Kota Pekanbaru kembali harus berhadapan dengan kualitas udara yang mengkhawatirkan. Rabu 9 September 2026 malam, indeks kualitas udara atau AQI⁺ mencapai angka 202, yang masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
Kondisi ini terjadi saat konsentrasi polutan utama PM2.5 tercatat mencapai 127 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 19.00 WIB.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa kualitas udara di Pekanbaru sedang berada dalam kondisi buruk akibat dari asap kebakaran hutan dan lahan.
Data pemantauan kualitas udara juga menunjukkan kondisi cuaca Pekanbaru saat itu berada pada suhu 29 derajat Celsius, dengan kecepatan angin sekitar 4 kilometer per jam serta kelembapan udara mencapai 66 persen.
Kategori sangat tidak sehat pada indeks kualitas udara membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas di luar ruangan.
Paparan PM2.5 menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat terhirup hingga masuk ke bagian dalam sistem pernapasan.
Karena itu, masyarakat, terutama kelompok rentan, sebaiknya mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak diperlukan ketika kualitas udara berada pada kondisi buruk.
Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker yang sesuai untuk menyaring partikulat dapat menjadi salah satu langkah perlindungan.
Masyarakat juga disarankan memantau perkembangan kualitas udara secara berkala. Kondisi tersebut dapat berubah mengikuti pergerakan angin, cuaca, serta sumber polusi di sekitar wilayah Pekanbaru.
Yang menjadi perhatian, kondisi udara dengan kategori sangat tidak sehat tersebut masih tercatat pada malam hari.
Pada pukul 19.00 WIB, ketika aktivitas masyarakat mulai berkurang, angka AQI justru masih berada di level 202 dengan PM2.5 mencapai 127 µg/m³.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan kualitas udara di Pekanbaru belum bisa dianggap sepele.
Warga diimbau tidak hanya melihat kondisi udara secara kasatmata. Udara yang tampak normal belum tentu bebas dari partikel polutan berukuran sangat kecil.
Dengan AQI yang menembus angka 202, kewaspadaan menjadi penting. Terlebih bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara.
Untuk sementara, Pekanbaru menghadapi satu persoalan yang tak terlihat tetapi bisa dirasakan: udara yang dihirup setiap hari berada dalam kategori sangat tidak sehat.

