SPMB 2026: SDN 127 Pekanbaru Hanya Terima 4 Murid Baru

Siswa-sdn-127-Pekanbaru.jpg
Siswa baru SDN 127 Pekanbaru (HERIANTO WIBOWO/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Krisis jumlah peserta didik mulai mengancam sejumlah sekolah dasar negeri di Kota Pekanbaru. Salah satunya terjadi di SDN 127 Pekanbaru yang hingga pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 hanya menerima empat calon siswa, bahkan hanya satu orang yang telah menyelesaikan proses pendaftaran secara lengkap.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 127 Pekanbaru, Etniyenti, mengatakan dari empat calon siswa tersebut, hanya satu yang telah terdaftar lengkap melalui sistem SPMB.

"Yang terdata secara lengkap baru satu orang. Artinya NIK, akta kelahiran, dan KTP orang tua sudah lengkap. Sementara tiga calon siswa lainnya masih mendaftar secara offline," ujar Etniyenti.

Sekolah yang berada di Jalan Tanjung Batu, Kecamatan Lima Puluh, itu mengalami penurunan jumlah peserta didik baru hingga sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu. Pada tahun ajaran sebelumnya, SDN 127 menerima 11 siswa baru dan kemudian bertambah satu siswa, sehingga jumlah siswa kelas I menjadi 12 orang.

Menurut Etniyenti, pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat masyarakat agar menyekolahkan anaknya di SDN 127. Namun, jumlah pendaftar justru terus mengalami penurunan.



"Kami sebagai guru sudah berusaha agar sekolah ini lebih diminati masyarakat. Tetapi karena kondisi lingkungan, jumlah murid yang mendaftar terus berkurang," katanya.

Ia menjelaskan, penurunan jumlah siswa mulai terasa sejak tahun 2024. Berbeda dengan tahun ajaran 2021 dan 2022 yang menjadi masa dengan jumlah peserta didik terbanyak. Saat itu, total siswa SDN 127 mencapai sekitar 149 orang.

Kini, jumlah siswa yang masih belajar di sekolah tersebut hanya tersisa 74 orang.

Etniyenti menilai, salah satu penyebab utama berkurangnya jumlah peserta didik adalah perubahan kondisi demografi di lingkungan sekitar sekolah. SDN 127 berada di kawasan perkampungan lama yang kini didominasi penduduk lanjut usia sehingga jumlah anak usia sekolah semakin sedikit.

"Wilayah sekolah kami berada di perkampungan lama. Penduduknya rata-rata sudah berusia lanjut sehingga jumlah anak usia sekolah tidak sebanyak dulu," jelasnya.