Perokok Aktif Indonesia Capai 70 Juta, Kemenkes Ingatkan Bahayanya bagi Anak Muda

Perokok-Aktif-Indonesia-Capai-70-Juta-Kemenkes-Ingatkan-Bahayanya-bagi-Anak-Muda.jpg
Koordinator Pengendalian Penyakit Terkait Tembakau Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Benget Saragih. (Liputan6.com/Ade Nasihudin)

RIAU ONLINE, JAKARTA - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat jumlah perokok aktif di Indonesia kini telah menembus angka 70 juta orang, yang mana 7,4 persen di antaranya berumur 10 s.d 18 tahun.

Hal ini disampaikan Koordinator Pengendalian Penyakit Terkait Tembakau Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Benget Saragih dalam peluncuran kampanye #SehatTanpaRokok di Jakarta pada Rabu, 3 Juni 2026.

"Karena yang sudah tua akan berhenti di usia 50 tahun karena sakit atau meninggal. Jadi, mereka harus mencari perokok pemula," kata Benget, dikutip dari liputan6.com, Sabtu, 6 Juni 2026.

Menurutnya, banyak rokok, termasuk rokok elektrik, yang dijual dengan kemasan yang menarik untuk anak-anak. Ditambah dengan cairan atau liquid berbagai rasa yang banyak diminati anak.

Benget yakin bahwa kemasan dan rasa yang beragam adalah upaya menarik minat anak-anak, bukan orang yang sudah lama merokok. Sebab, perokok dewasa cenderung tidak terlalu memikirkan hal-hal tersebut ketika hendak merokok.


Dia mengingatkan bahwa penyakit akibat rokok tidak muncul begitu saja. Butuh 10 hingga 20 tahun hingga dampak buruknya terlihat.

"Jadi, pada saat dia usia 30 atau 40 tahun, usia produktif, barulah mereka mengantre di rumah sakit. Sehingga, masa depan generasi muda bisa kita lihat ke depan, apa yang terjadi di Indonesia kalau tidak ada penanggulangan," ujarnya.

Ancaman ini kian nyata bagi anak-anak yang hidup bersama orang tua perokok. Mereka dapat menjadi perokok pasif dan perokok ketiga akibat menghirup residu racun rokok yang menempel di pakaian, kulit, hingga perabotan rumah.

Pajanan rokok bisa memicu pneumonia atau peradangan paru. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kemenkes RI, pneumonia memicu 740.000 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun secara global setiap tahunnya.

Anak-anak yang berada di lingkungan orang tua perokok memiliki kerentanan jauh lebih tinggi untuk terkena pneumonia akibat asap rokok.

Krisis ini turut diperparah oleh lonjakan penggunaan rokok elektrik (vape) di kalangan remaja yang meningkat pesat hingga 10 kali lipat, dari 0,3 persen menjadi 3 persen.