Anak dan Lansia Paling Rentan Pada Ancaman Kesehatan Akibat Karhutla

Karhutla-di-tambang-kampar1.jpg
Kabut asap menutupi area lahan gambut yang terbakar di Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar (DEFRI CANDRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya menjadi ancaman terhadap lingkungan dan ekosistem, tetapi juga terhadap kesehatan jutaan manusia.

Dilansir dari laman United States Environmental Protection Agency (US EPA), asap kebakaran hutan terdiri dari campuran gas beracun seperti karbon monoksida, senyawa kimia berbahaya seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), uap air, serta polusi partikel yang merupakan komponen paling membahayakan bagi kesehatan masyarakat.

Polusi partikel, atau materi partikulat (PM), adalah campuran tetesan padat dan cair yang tersuspensi di udara. Sumbernya beragam, namun aktivitas pembakaran seperti kebakaran hutan menjadi salah satu kontributor utama. 

Partikel ini dapat terdiri dari asam, senyawa organik dan anorganik, logam, jelaga, hingga mikroorganisme seperti serbuk sari atau spora jamur. 

Partikel ini dikelompokkan berdasarkan ukurannya menjadi dua kategori utama:

  • PM10-2.5 (partikel kasar) berukuran antara 2,5 hingga 10 mikrometer, biasanya dihasilkan dari aktivitas mekanis seperti konstruksi dan pertanian.

  • PM2.5 (partikel halus) berukuran lebih kecil dari 2,5 mikrometer dan menyumbang sekitar 90% massa partikel dalam asap kebakaran hutan. Partikel inilah yang paling berbahaya.

Partikel ini tidak hanya mengiritasi mata dan tenggorokan, tapi bisa memperparah penyakit paru kronis seperti asma, bronkitis, serta meningkatkan risiko serangan jantung, terutama pada kelompok rentan.

Kelompok paling berisiko antara lain:


  • Anak-anak di bawah 18 tahun

  • Lansia

  • Ibu hamil

  • Penderita penyakit jantung dan paru-paru

  • Pekerja luar ruangan seperti petani dan buruh bangunan

  • Masyarakat berpenghasilan rendah yang kesulitan mengakses perlindungan Kesehatan

Partikel halus juga dapat dengan mudah masuk ke dalam rumah, terutama pada bangunan dengan ventilasi terbuka. Artinya, berada di dalam ruangan pun tak selalu menjamin perlindungan, terutama saat kualitas udara luar memburuk akibat karhutla.

Dampak kesehatan akibat paparan PM2.5 dari asap kebakaran hutan setara dengan partikel halus dari sumber pencemaran lain, seperti asap kendaraan atau industri.

Ini memperkuat kekhawatiran bahwa setiap musim kemarau, ketika karhutla kerap terjadi di Sumatera dan Kalimantan, jutaan warga di sekitar lokasi kebakaran menghadapi risiko kesehatan yang meningkat.

Apa yang bisa dilakukan:

  • Mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk

  • Menggunakan masker N95 atau KN95

  • Menutup ventilasi rumah dengan kain basah saat asap pekat

  • Menggunakan pembersih udara (air purifier) jika memungkinkan

  • Mencari tempat berlindung dengan kualitas udara yang lebih baik, terutama untuk anak-anak dan lansia.