Lebih 800 Ribu Orang Penduduk Dunia Meninggal Akibat Covid-19

Positif-Corona.jpg
(istimewa)

RIAUONLINE - Data Universitas Johns Hopkins menunjukkan, Sabtu (22/8), jumlah korban meninggal akibat virus corona di dunia melebihi 800 ribu, sementara kasus positif di seluruh dunia mencapai hampir 23 juta kasus.

Selama berbulan-bulan, AS terus menjadi negara dengan kematian terbanyak akibat Covid-19, dengan lebih dari 175.600 dan infeksi lebih dari 5,6 juta.

Para pejabat kesehatan di AS meyakini jumlah infeksi di AS mungkin 10 kali lebih besar dari yang dilaporkan karena minimnya tes dan pelaporan.

Kabar itu muncul di tengah sebuah analisis yang dilakukan Associated Press dan The Marshall Project, sebuah organisasi berita nirlaba yang meliput sistem keadilan kriminal. Analisa itu mendapati bahwa orang-orang non kulit putih, yang jumlahnya kurang dari 40 persen populasi AS, mencakup 52 persen dari "kelebihan kematian" -- di atas tingkat normal hingga Juli.

Berdasarkan data Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC), laporan itu mendefinisikan kelebihan kematian sebagai jumlah orang di atas jumlah rata-rata yang meninggal dunia di AS selama tujuh bulan pertama dalam setahun,

Pada Sabtu (22/8), Presiden AS Donald Trump, tanpa bukti, menuduh para pegawai Badan Pangan dan Obat-obatan berusaha mengulur-ulur pengujian vaksin Covid-19 hingga setelah pilpres November.

Komentar Trump itu muncul setelah Reuters melaporkan pada Kamis (20/8) bahwa seorang pejabat senior Badan Obat-Obat dan Makanan AS (Food and Drugs Administration/FDA) mengatakan akan mundur apabila pemerintahan Trump menyetujui sebuah vaksin sebelum dinyatakan aman dan efektif oleh FDA.

Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan kepada wartawan pada Sabtu (22/8) di Capitol Hill bahwa Trump menyampaikan "pernyataan berbahaya" mengenai pegawai FDA.

Artikel ini lebih dulu tayang di VOAindonesia