Kelompok Pemberontak Houthi Roket Mesjid, 100 Jamaah Tewas

Militan-Houthi-di-Yaman.jpg
(Reuters/Mohamed al-Sayaghi)

RIAU ONLINE, SANA'A-Kelompok pemberontak Houthi menembak roket ke masjid di Yaman, Sabtu 18 Januari 2020. Serangan tersebut dilancarkan di tengah pelaksanaan salat berjamaah di masjid tersebut. Akibatnya lebih dari 100 orang tewas dalam serangan itu.


Diberitakan Reuters, Minggu 19 Januari 2020,  masjid di kamp militer provinsi Marib --sekitar 170 kilometer timur ibu kota Sanaa-- itu diserang Houthi menggunakan drone berpeledak dan roket. Belum ada komentar dari Houthi terkait serangan tersebut.


Media Saudi Al-Hadath memperlihatkan kengerian setelah serangan tersebut. Potongan tubuh dan reruntuhan bangunan berserakan di atas lantai masjid. Darah menggenang di karpet dan dinding masjid.


Menurut data rumah sakit kota Marib, sekitar 148 orang terluka dalam insiden itu. Juru bicara militer Yaman mengatakan, korban tewas terdiri dari tentara dan warga sipil. Mereka menyatakan akan menuntut balas atas serangan tersebut.


"Kami mengutuk keras serangan teroris terhadap masjid oleh milisi Houthi, yang menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai puluhan lainnya," ujar pernyataan Kementerian Luar Negeri Yaman di Twitter.


Houthi adalah kelompok milisi Syiah Yaman yang disokong Iran. Sejak 2011, Houthi melakukan pemberontakan dan menguasai Sanaa. 
Pada 2015, koalisi Arab Saudi mengintervensi konflik tersebut, menguasai sebagian besar Yaman pimpinan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi. Konflik di Yaman telah menewaskan ribuan orang dan membuat ratusan ribu mengungsi.

Pengeboman kali ini terjadi selang sehari setelah pasukan koalisi Saudi melancarkan serangan terhadap Houthi di wilayah Nihm, utara Sanaa. "Puluhan milisi Houthi tewas atau terluka," ujar sumber Reuters.


Presiden Mansour Hadi mengecam serangan teroris Houthi ke masjid, menyebutnya pengecut. 

"Tindakan memalukan milisi Houthi tidak diragukan menunjukkan keengganan mereka mencapai perdamaian, karena yang mereka tahu hanya kematian dan kehancuran, dan mereka adalah alat Iran yang murah di kawasan," kata Hadi.

Artikel ini sudah terbit di Kumparan.com