Oleh: Ilham Muhammad Yasir, Pemimpin Redaksi Riau Online
RIAU ONLINE, PEKANBARU - PUASA adalah salah satu ibadah yang penting dalam ajaran tiga agama samawi: Islam, Kristen, dan Yahudi. Walau cara dan waktu pelaksanaannya berbeda, ketiganya bertemu pada satu inti: puasa dipahami sebagai jalan penyucian diri, sarana pengampunan dosa, dan upaya mendekat kepada Allah SWT.
Karena itu, puasa tidak pernah berdiri sebagai sekadar ritual menahan lapar, melainkan latihan spiritual yang menuntut kesungguhan batin.
Tulisan ini mengupas persamaan dan perbedaan puasa dalam Islam, Kristen, dan Yahudi, sekaligus menampilkan dasar hukum (nash) yang menjadi pijakan masing-masing ajaran.
Dalam Islam, puasa termasuk rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat berpuasa. Puasa Ramadhan dilaksanakan pada bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan sebagai cara penyucian diri.
Pelaksanaannya memiliki batas yang tegas: menahan diri dari makan, minum, berhubungan intim, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Dengan kerangka yang jelas itu, Puasa Ramadhan juga menjadi pendidikan karakter: mengajarkan kesabaran, menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, dan membangkitkan kesadaran spiritual yang lebih hidup.
Dasar Puasa Ramadhan di dalam Al-Qur’an dinyatakan secara gamblang. Salah satunya termaktub dalam Surah Al-Baqarah (2:183): “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini memperlihatkan dua hal yang tidak terpisah: puasa adalah kewajiban, dan tujuan utamanya adalah ketakwaan. Puasa bukan semata menahan ragawi, tetapi mengarahkan batin agar lebih tunduk, lebih jernih, dan lebih bertanggung jawab di hadapan Allah.
Lebih jauh, Puasa Ramadhan juga dipandang sebagai sarana membersihkan diri dari dosa, dengan pengampunan dosa-dosa kecil bagi mereka yang menjalankannya dengan tulus.
Karena itu, puasa tidak berhenti pada lapar yang dijadwalkan, tetapi menjadi kesempatan untuk memperbarui niat, memperhalus akhlak, serta mempertebal kepedulian terhadap orang lain.
Jika Islam menempatkan Puasa Ramadhan sebagai kewajiban yang waktunya spesifik dan aturannya rinci, maka dalam Kristen puasa tampil dengan corak yang berbeda.
Dalam tradisi Kristiani, puasa memiliki peran penting dalam kehidupan rohani, dan yang paling terkenal adalah puasa Pra-Paskah selama 40 hari sebelum Paskah. Masa ini menjadi ruang pertobatan dan penyerahan diri, sekaligus upaya meneladani Yesus yang berpuasa 40 hari di Padang Gurun sebelum memulai misi-Nya (Matius 4:1–2).
Dalam Kristen, puasa bukan hanya soal pengurangan konsumsi, melainkan latihan kerendahan hati agar ibadah tidak berubah menjadi pertunjukan.
Karena itu, Yesus mengajarkan adab puasa dalam Matius 6:16–18: Ketika berpuasa jangan muram seperti orang munafik, dan jangan berpuasa untuk dilihat manusia; melainkan lakukan dengan ketulusan, karena Tuhan yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya.
Dengan pesan itu, puasa dalam Kristen dipahami sebagai bagian dari penyerahan diri kepada Tuhan, bukan panggung untuk mendapat pujian. Pra-Paskah menjadi waktu pertobatan: merenung, berdoa, dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan.
Sementara itu, dalam Yahudi, puasa merupakan praktik penting untuk penebusan dosa dan pengampunan. Puasa yang paling utama adalah Yom Kippur, Hari Pengampunan, yang dijalankan selama 25 jam dari matahari terbenam hingga matahari terbenam hari berikutnya.
Dalam rentang itu, umat Yahudi menahan diri dari makan, minum, dan aktivitas duniawi sebagai wujud pertobatan dan permohonan ampun.
Dasarnya dijelaskan dalam Tanakh, Kitab Imamat 23:27–32, yang menerangkan hari pendamaian sebagai pertemuan kudus dan saat merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Selain Yom Kippur, puasa juga dikenal pada momen lain seperti Hari Purim dan puasa Asyura, meskipun Yom Kippur disebut paling penting dan sakral.
Dari sini, tampak persamaan yang kuat: meski waktu dan caranya berbeda, puasa dalam Islam, Kristen, dan Yahudi sama-sama diarahkan pada tujuan spiritual—penyucian diri, pertobatan, pengampunan dosa, dan pendekatan kepada Tuhan.
Ketiganya juga menekankan bahwa puasa bukan semata menahan makan dan minum, tetapi terkait pengendalian hawa nafsu, dorongan untuk berderma, memperbanyak doa, dan membantu sesama. Puasa, dengan demikian, mengikat dimensi batin dan sosial sekaligus.
Adapun perbedaan utamanya terletak pada bentuk kewajiban dan kerangka pelaksanaan. Dalam Islam, Puasa Ramadhan bersifat wajib bagi semua Muslim yang memenuhi syarat, dengan aturan waktu yang spesifik dan ketentuan jelas tentang hal-hal yang membatalkan puasa.
Dalam Kristen, puasa lebih bersifat sukarela dan terfokus pada masa Pra-Paskah 40 hari sebelum Paskah. Sedangkan dalam Yahudi, puasa lebih terpusat pada hari-hari pengampunan seperti Yom Kippur yang bersifat wajib bagi orang Yahudi yang taat.
Pada akhirnya, puasa tetap berdiri sebagai ibadah yang suci dalam ketiga agama samawi. Meski berbeda praktik, esensinya bertemu pada pengendalian diri dan perbaikan spiritual.
Baik puasa Ramadhan, Pra-Paskah, maupun Yom Kippur, semuanya menjadi jalan menuju kedekatan spiritual dan pengampunan dosa—seraya menegaskan pentingnya kerendahan hati, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama manusia.

