Ramadan Sebagai Momen Menguatkan Empati

Oleh-Ilham-Muhammad-Yasir-Redaktur-Eksekutif-Riau-Online.jpg
Ilham Muhammad Yasir, Pemimpin Redaksi Riau Online. (Istimewa)

Oleh: Ilham Muhammad Yasir, Pemimpin Redaksi Riau Online

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Puasa Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan yang berulang, melainkan agenda pembentukan manusia. Ia adalah ibadah yang tampak sederhana: menahan makan, minum, dan syahwat. 

Namun Puasa Ramadan menyimpan daya ubah yang dalam: membongkar kesombongan, melatih kendali diri, serta menumbuhkan kesadaran empati sosial yang tinggi. Dalam kacamata iman, puasa adalah cara Allah mendidik hamba-Nya agar tidak diperbudak oleh keinginan, melainkan dipimpin oleh takwa.

Kapan perintah puasa Ramadan ditetapkan? Dalam sejarah Tasyri’ (penetapan syariat), kewajiban Puasa Ramadan diturunkan pada tahun ke-2 Hijriah ketika kaum Muslimin telah berada di Madinah. 

Momentum ini penting, setelah pondasi akidah dan komunitas terbentuk, datanglah kewajiban yang mendisiplinkan umat secara kolektif, berpuasa sebulan penuh, serentak, dan terukur.

Dalil dan dasar Puasa Ramadan sangat jelas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). 


Ayat-ayat berikutnya (QS. Al-Baqarah: 184–185) menguraikan ketentuan, keringanan bagi yang sakit atau musafir, dan penegasan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Kemudian (QS. Al-Baqarah: 187) menjelaskan batas waktu puasa serta adab hubungan suami-istri pada malam Ramadan. 

Dari sunnah atau hadis tentang rukun Islam menempatkan Puasa Ramadan sebagai salah satu pilar utama. Karena dalilnya tegas dan diamalkan Rasulullah serta generasi awal, para ulama sepakat, hukum Puasa Ramadan adalah fardhu ‘ain, yaitu menjadi kewajiban bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat.

Namun, puasa tidak hadir tiba-tiba. Sebelum perintah Puasa Ramadan, umat Islam telah mengenal puasa dalam beberapa bentuk. Al Qur’an sendiri memberi isyarat bahwa puasa merupakan ibadah lintas umat: “Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu” (QS. Al-Baqarah: 183). 

Dalam fase awal Islam, puasa yang menonjol adalah puasa ‘Asyura (10 Muharram). Sejumlah riwayat menunjukkan bahwa ‘Asyura ditekankan kuat pada masa awal, lalu setelah kewajiban Ramadan turun, Puasa ‘Asyura menjadi sunnah.

Selain itu, Nabi Muhammad membiasakan dan menganjurkan puasa sunnah sebagai latihan rohani, seperti puasa Senin–Kamis, puasa tiga hari setiap bulan (termasuk Ayyamul Bidh), puasa Arafah bagi yang tidak berhaji, serta puasa Daud (sehari puasa sehari berbuka) yang disebut sebagai puasa sunnah terbaik. 

Karena itu, ketika puasa Ramadan diwajibkan, umat telah memiliki pengalaman puasa sebagai latihan spiritual bukan sekadar beban baru.

Lalu, mengapa Allah memerintahkan puasa? Al-Qur’an menjawab dengan satu kata yang menjadi inti takwa. Takwa bukan hanya rasa takut, melainkan kesadaran yang membuat seseorang berhati-hati, jujur, dan tunduk pada batasan Allah. 

Puasa melatih kemampuan paling sulit mengendalikan diri saat ada dorongan untuk melanggar. Menahan yang halal makan dan minummembuat kita lebih kuat meninggalkan yang haram. 

Puasa juga mengangkat dimensi sosial, yaitu rasa lapar mengajari empati tanpa perlu ceramah panjang. Orang yang kenyang sepanjang tahun sering lupa bahwa sebagian saudara kita hidup dalam kekurangan dan Puasa Ramadan memaksa kita merasakan, agar kita tergerak memberi.

Pada akhirnya, Puasa Ramadan adalah sekolah satu bulan untuk sebelas bulan berikutnya. Bila setelah Ramadan kita lebih tertib, lebih sabar, lebih menjaga lisan, dan lebih peduli, maka puasa telah bekerja sebagaimana tujuannya menumbuhkan takwa, bukan sekadar menahan lapar.