Aktual, Independen dan Terpercaya


Apakah Arab Saudi Akan Bangkrut saat Harga Minyak Dunia Anjlok?

Pompa-Mesin-Angguk-Minyak.jpg
(AP)

RIAU ONLINE - Anjloknya harga mintak mentah dunia sejak Juni 2014 silam membuat negara-negara pengekspors minyak (OPEC), semakin was-was dan khawatir. 

 

Penurunan ini jelas berdampak terhadap ekonomi Arab Saudi sangat mengandalkan minyak bumi, tapi sejauh mana dampak tersebut? Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Saudi membutuhkan harga minyak pada nilai 105 Dolar AS per barrel agar APBN mereka tetap sehat. (Baca Juga: Ini Penyebab Harga Minyak Dunia Terpuruk di Harga 30 Dolar AS Per Barel

 

Tahun lalu, seperti dilansir dari BBC, pemerintah Arab Saudi mengalami defisit anggaran 98 miliar Dolar AS disebabkan penurunan harga minyak dan investasi besar-besaran di sektor infrastruktur.


Pemotongan subsidi

Di luar faktor ekonomi, defisit juga disebabkan oleh faktor-faktor politis. "Kebijakan geopolitik yang agresif di Timur Tengah juga memperburuk anggaran mereka," kata analis Daniel Mahoney dari Centre for Policy Studies kepada harian bisnis London, City AM.

 

Dampak defisit anggaan ini mulai terasa dalam berbagai hal, misalnya kenaikan harga bensin sebesar 50 persen dialami penduduk Arab Saudi.

 

Pemotongan anggaran pada sektor publik juga akan dilakukan, berupa pemangkasan subsidi yang selama ini diberikan untuk layanan air dan listrik.

 

Total pemangkasan ini mencapai 14%, yang dinyatakan oleh analis Ian Stewart dari Deloitt sebagai kebijakan "radikal", seperti dikutip City AM. (Klik Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok, Pemerintah Beralih ke Pariwisata untuk Raih Fulus

 

Langkah lain yang akan diambil adalah rencana penjualan obligasi luar negeri sebesar US$27 miliar, yang akan menjadi lonjakan drastis dari utang luar negeri mereka sebesar US$4 miliar yang terakhir kali mereka lakukan pada tahun 2007.

 

Privatisasi juga tampaknya akan menjadi pilihan, dengan penjualan perusahaan minyak negara Aramco sebagai yang pertama akan ditawarkan kepada pembeli asing.

 

Dengan langkah-langkah ini, tampaknya Arab Saudi akan mengatasi krisis dengan langkah-langkah finansial, ketimbang melakukan pengurangan produksi minyak bumi.


Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline