Aktual, Independen dan Terpercaya


Soal Baju Lebaran, Ini Penjelasan Ulama

belanja-baju.jpg
(net)

 

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Lebaran hanya hitungan hari, biasanya umat muslim sudah sibuk dengan persiapan menghadapi hari raya Idul Fitri 1 Syawal ini, tak terkecuali penampilan seperti baju, celana, dan pakaian lainnya yang serba baru.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau M Nazir Karim menilai hal itu sah-sah saja, karena umat muslim berhak merayakan hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu selama 30 hari.

"Luapan rasa gembira atas puasa wajar dilampiaskan dengan cara lahiriyah seperti pakaian baru dan wewangian. Itu kan memang disunnahkan," ungkap Nazir kepada RIAUONLINE.CO.ID, Rabu, 13 Juni 2018.

Meskipun begitu, lanjut Nazir, ada hal yang mesti diperhatikan betul oleh kaum muslim, yakni persiapan libasut taqwa atau pakaian taqwa.

"Tapi yang paling diutamakan itu, libasut taqwa atau pakaian taqwa, libasut taqwa ini sifat-sifat mulia kita, bukannya baju koko di pasar. Libasut taqwa inilah yang harusnya kita dapatkan setelah beribadah pada bulan Ramadan," jelas Nazir.

"Hai anak Adam [umat manusia], sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa [selalu bertakwa kepada Allah] itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat," (QS. Al Araf : 26).

Adapun contoh libasut taqwa ini, Nazir menerangkan adanya akhlak yang kokoh dalam jiwa seorang muslim, wawasannya mendalam dan luas, bermanfaat kepada sesama, peka terhadap sosial, peduli dengan orang lemah, dan lainnya.

Jadi, menurut Nazir, berpakaian baru di hari lebaran boleh-boleh saja, asalkan tidak terlalu dipaksakan sehingga menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan pakaian baru di hari lebaran.

"Tapi jangan dipaksakan untuk berpakaian baru, sampai harus mencuri, itu tidak boleh. Harusnya orang yang berlebih hartanya, saling berbagi dengan orang yang kekurangan, sehingga bisa merayakan bersama-sama," ulasnya.

"Apalagi kepada anak yatim, kalau anak yatim diabaikan, tidak ada artinya puasa Ramadan kita selama ini," tutupnya.