RIAU ONLINE, KAMPAR - Sungai Subayang menjadi nadi bagi Masyarakat Adat Kekhalifahan Batu Sanggan yang terdiri dari enam kenegerian atau "Kotak Nan Onam". Salah satu kenegerian yang termasuk dalam Kotak nan Onam adalah Kenegerian Gajah Bertalut yang berada di Desa Gajah Bertalut, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar.
Masyarakat Adat Gajah Bertalut hidup di antara aliran sungai dan rimbunnya hutan yang telah menjadi nadi kehidupan selama berabad-abad. Setiap desir angin dan gemericik air memiliki makna. Apakah itu menjadi penanda musim, penentu rezeki, dan pengingat akan keseimbangan yang mereka jaga.
Dari rumah-rumah di lereng-lereng tebing, di antara kokok ayam dan suara kambing, warga mulai beraktivitas. Sebagian menyiapkan perahu untuk menyeberang sungai, sebagian lagi bersiap berangkat ke kebun untuk menakik atau menyadap getah karet.
Desa yang menjadi rumah bagi 130 Kepala Keluarga (KK) ini didominasi oleh petani karet. Sekretaris Desa Gajah Bertalut, Suherman (38) menyebutkan, hutan dan sungai menjadi salah satu sumber kehidupan mereka. banyak masyarakat yang mengumpulkan hasil hutan, serta mencari ikan di sungai.
“Ada yang berkebun, ada yang motong karet. Kalau musim buah-buahan, warga rata-rata ke hutan, ngambil buah. Ada petai, ada jengkol,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Suher ini menuturkan kekayaan hutan di wilayah adat Gajah Bertalut. Mulai dari satwa yang beragam, hingga buah-buahan yang bisa dipanen oleh masyarakat.
“Selain madu sialang, ada buah-buahan, damar, manau. Buah ada rambutan, rambutan hutan atau tuiang, idan, petai, jengkol, kabau. Ada juga rusa, kijang, kancil itu masih,” papar Suher.
Hutan yang Kian Berjarak
Hasil hutan yang seringkali menjadi konsumsi warga kian sulit dijangkau. Degradasi hutan, membuat jarak antara permukiman dan kawasan tempat buah buahan kian jauh.
“Masyarakat kan ngambil yang dekat dulu, semakin tahun dia jadi semakin jauh. Karena dari sini ke hutan lebih kurang 3-4 jam jalan kaki. Bawa peralatan untuk bermalam, nginap. Biasanya 2 minggu,” ujarnya.
Selain itu, alih fungsi lahan di wilayah perbatasan juga berpengaruh pada keberadaan satwa.
“Itu kan perbatasan dengan Kuansing (Kuantan Singingi), orang itukan menanamnya sawit. Jadi mungkin terganggu dengan kondisi di situ, kalau di peninjauan orang tu sekarang sudah agak berkurang. Sudah berpindah tempat. Binatang itukan kalau gak aman dia berpindah tempat,” kata Suher.
Keluhan serupa juga dirasakan Nur Jannah. Perempuan berusia 74 tahun yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan membuat anyaman. Nur Jannah mulai membuat keranjang anyaman dari rotan sejak berusia 30 tahun.
Di tangannya, anyaman rotan menjadi simbol ketekunan dan warisan budaya yang masih bertahan di tengah tantangan zaman.
Namun, kini untuk mencari bahan baku membuat ambuang, semacam keranjang anyaman berukuran besar yang terbuat dari rotan dan manau, kian sulit. Rotan yang dulunya bisa ditemukan di pinggiran desa, kini harus menempuh jarak ke hutan yang lebih dalam.
“Jauh. Gak ada lagi yang dekat. Kalau tahun 71, manau di hutan belakang situ aja. Jauh lah sekarang. Gak ada lagi yang dekat,” tuturnya.
“Yang ambil rotan menantu, cucu, ke imbo (hutan). Sudah susah sekarang cari manau,” imbuhnya.
Hutan dan Sungai Tumpuan Masyarakat Adat
Masyarakat Adat Kenegerian Gajah Bertalut masih memegang teguh kesepakatan adat untuk menjaga lingkungan di wilayahnya. Dari Hutan Ulayat, hingga lubuk larangan menjadi simbol konservasi tradisional yang diwariskan turun temurun.
Datuk Pucuk Kenegerian Gajah Bertalut, Badul Aziz (52) menjelaskan bagaimana wilayah adat mereka terbagi atas fungsi dan aturan yang diwariskan turun-temurun.
“Kalau hutan ulayat itu ada bagian-bagiannya. Hutan ulayat di Gajah Bertalut ini seluas 4.414 hektar. Di situ ada bagian-bagiannya. Ada hutan pemanfaatan, ada hutan karet, ada hutan yang betul-betul dilindungi,” ujarnya.
Pembagian kawasan ini sudah ditetapkan oleh leluhur mereka. Di mana, batas wilayah ditandai dengan “air yang berkecucuran dan tanah yang berketelengan”. Ungkapan ini merujuk pada daerah cucuran air atau hulu-hulu sungai yang berada di puncak bukit sebagai batas alam wilayah kenegerian.
Tujuannya adalah agar masyarakat dapat memanfaatkan area perkebunan untuk menanam, memanen hasil hutan di kawasan pemanfaatan, serta menjaga kawasan inti hutan.
Tinggal di tepian sungai, membuat masyarakat ini juga protektif terhadap kawasan sungai. Mereka menetapkan wilayah tempat ikan-ikan berkembang biak menjadi lubuk larangan. Wilayah ini ditandai dengan tali yang melintang, sebagai tana tak ada yang boleh menangkap ikan di kawasan tersebut.
“Lubuk larangan itu kesepakatan dari masyarakat semua, untuk mengadakan lubuk larangan. Itu kita sepakat dengan ninik mamak sepakat,” ungkap Aziz.
Setahun sekali, saat air mulai surut di musim kemarau, masyarakat akan mengadakan pesta rakyat untuk bersama-sama membuka lubuk larangan. Mereka menangkap ikan bersama, memasak ikan untuk dimakan bersama, serta dibagikan ke seluruh masyarakat desa secara adil.

Desa Gajah Bertalut, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar.
Rumah yang Makin Tak Ramah
Perubahan cuaca ekstrem membuat sungai tak lagi bisa diprediksi. Menurut Aziz, kondisi debit air saat ini lebih sulit diprediksi.
“Sekarang memang banyak perubahan. Hujan dikit langsung banjir. Lebih kurang setahun dua tahun ini lah. Hujan dikit langsung banjir, udah tu kering lagi. Keringnya cepat,” ucapnya.
Perubahan cuaca ekstrem membuat sungai tak lagi bisa diprediksi. Kadang siang hari terlihat tenang, malamnya air meluap hingga menenggelamkan tepian rumah.
“Kadang-kadang siang ini kayak gini kan, nanti malam banjir, hujan,” ujarnya.
Saat kemarau, arus sungai menjadi dangkal. Perahu yang biasa digunakan untuk aktivitas transportasi masyarakat dan membawa pasokan pangan menjadi terganggu.
“Kalau kemarau iya memang kering. Tapi kalau kering betul, gak. Tapi susah lewat, pakai sampan itu sudah susah kita. Kita harus keluar dari sampan baru kita dorong,” tur Aziz.
“Makanan-makanan kita kan dari bawah semua. Kalau seandainya dangkal, kita kan jadi agak susah. Misalnya biasanya bisa bawa 500 kilo, sementara kalau dangkal 200 kilo lagi bisa kita bawa muatannya,” imbuhnya.

Pembukaan kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar.
Peningkatan Konflik Satwa Liar
Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (KSDA) Riau mencatat, total kejadian konflik di sekitar kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (BRBB) mengalami dinamika cukup signifikan.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono mengungkapkan, hal ini tidak terlepas dari perubahan tutupan lahan di kawasan penyangga di sekitar Suaka Margasatwa BRBB.
“Dengan banyaknya pembukaan hutan di sekitar kawasan rimbang baling yang pasti karena dia penyangga, yaitu banjir, perubahan iklim mikro, itu sudah pasti. Termasuk pergerakan satwa. Efeknya konflik satwa terutama harimau, beruang madu,” kata Supartono.
Wilayah jelajah satwa yang kian berkurang, berpengaruh pada jumlah pakan satwa liar di sekitar kawasan hutan. Akibatnya, satwa liar akan mencari sumber pakan alternatif.
“Kalau dia tidak ketemu rusa, tidak ketemu babi, ya dia akan makan sapi, kambing, ayam,” ujarnya.
Jika dilihat berdasarkan spesies satwa yang terlibat, konflik paling sering melibatkan Gajah Sumatera (14 kasus), disusul Beruang Madu (10 kasus), Harimau Sumatera (5 kasus), Buaya Muara (4 kasus), Buaya Senyulong (4 kasus), serta masing-masing satu kasus yang melibatkan Tapir, Rangkong, dan Beruk.
Pada 2018, konflik pertama tercatat di Gunung Melintang, Kuantan Hilir dan Desa Pangkalan Indarung, Kuantan Singingi, melibatkan Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera.
Tahun 2019 menjadi periode dengan lonjakan tertinggi, mencatat delapan kejadian yang tersebar di berbagai lokasi di Kuantan Singingi dan Kampar. Kasus melibatkan Rangkong, Buaya Muara, Harimau Sumatera, Beruang Madu, serta beberapa kelompok Gajah Sumatera di Cerenti, Gading Permai, dan Koto Peraku.
Pada 2020, konflik masih didominasi Gajah Sumatera, di antaranya terjadi di Desa Subayang, Stugal, dan Pesikaian (Kuansing), disertai kasus Buaya Muara di bendungan Waskita Karya (Sentajo Raya), serta satu insiden dengan Beruk di Desa Petai.
Memasuki 2021, muncul variasi spesies baru dalam konflik, yaitu Buaya Senyulong di Desa Jake, Tapir di Desa Lubuk Ambacang, serta Beruang Madu di Desa Pulau Busuk. Gajah Sumatera juga masih menjadi sumber utama konflik di Taratak Rendah dan Sigaruntang.
Tahun 2022 relatif lebih tenang dengan tiga kasus, melibatkan Beruang Madu di Cerenti serta dua perjumpaan dengan Gajah Sumatera di Gunung Sahilan dan Sungai Raja (Kampar Kiri).
Namun, 2023 kembali mencatat peningkatan dengan enam kejadian, termasuk konflik Gajah Sumatera di Rambahan, Harimau Sumatera di Pulau Padang, dan Beruang Madu di Sikijang serta Pangean. Dua kasus lain melibatkan Buaya Muara dan Buaya Senyulong di wilayah Cerenti dan Jake.
Pada 2024, konflik meningkat menjadi tujuh kasus. Catatan menunjukkan keterlibatan Buaya Senyulong di Kuantan Hilir dan Desa Petai, Gajah Sumatera di Lipat Kain (Kampar Kiri), Beruang Madu di Siberakun dan Sikijang, Buaya Muara di Pebaun Hulu, serta Harimau Sumatera di Logas Tanah Datar.
Sementara itu, tahun 2025 menandai tren penurunan dengan empat insiden: dua konflik Beruang Madu (di Pulau Busuk Jaya dan dekat Camp WWF Rimbang Baling), serta dua kasus Gajah Sumatera di Gunung Sahilan dan Beruang Madu di Desa Makmur Sejahtera.
Selain itu, Balai Besar KSDA juga mencatat bahwa mayoritas pembukaan kawasan hutan di wilayah Suaka Margasatwa BRBB didominasi dengan penanaman kelapa sawit.
Hingga Oktober 2025, sebanyak 4.656,62 hektar dari 141.226,25 hektar telah dibuka. Dari jumlah tersebut, 3.010.79 di antaranya terindikasi menjadi kebun kelapa sawit.
Menjaga yang Tersisa
Masyarakat Gajah Bertalut hidup dalam keseimbangan yang rapuh. Mereka menggantungkan hidup pada alam, namun kini juga menjadi saksi atas perubahannya. Hujan dan kemarau tak lagi menentu, sungai semakin dangkal, hasil hutan menurun. Meski begitu, semangat untuk menjaga tetap hidup.
“Potensi kita kan besar, ada air terjun, ada tempat wisatanya. Tapi kita gak ada yang mengembangkan. Kalau kita ada yang memandu, kita masyarakat di sini pasti ada pemasukannya,” katanya dengan nada berharap.
Sungai Subayang terus mengalir di antara pepohonan tua, membawa cerita tentang masyarakat adat yang berjuang menjaga warisan alam dan adat mereka, agar tetap hidup, meski zaman dan iklim terus berubah.

