RIAU ONLINE, JAKARTA - Mayoritas masyarakat merasa stres dengan kebijakan pemerintah selama dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini terungkap melalui jajak pendapat yang dilakukan oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan.
Berdasarkan hasil survei tersebut, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memaparkan bahwa 75 persen responden mengaku merasa stres dengan kebijakan pemerintah. Kemudian secara khusus, 67 persen responden menyatakan stres dengan perilaku Prabowo.
“Kami coba menanyakan terkait dengan perasaan stres terhadap kebijakan pemerintah. Dari 1.122 responden, jawabannya, 75 persen itu merasa stres dengan kebijakan pemerintah dan spesifik 67 persen stres dengan perilaku dari Prabowo Subianto,” tutur Bhima, dikutip dari Suara.com, Senin, 12 Oktober 2026.
Bhima menyebutkan kalau tiga hal yang paling menyebabkan masyarakat stres kebanyakan berkaitan dengan kenaikan harga bahan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, serta penegakan hukum.
Dalam survei yang sama, CELIOS juga bertanya soal kondisi fisik dan mental Presiden Prabowo untuk menjalankan tugas kepemimpinan. Sebanyak 38 persen responden menilai kondisi fisik dan mental Presiden kurang baik. Sementara itu, 23 persen menilainya tidak baik sama sekali.
“Sedangkan yang menjawab kondisi fisik dan mental Presiden untuk memimpin sangat baik hanya 8 persen," kata Bhima.
Selain mengukur respons masyarakat, CELIOS turut meminta penilaian kalangan ahli terhadap kapasitas kepemimpinan dan komunikasi publik Presiden Prabowo. Dari 129 ahli yang memberikan penilaian, sebanyak 71 persen menilai kapasitas kepemimpinan tidak memadai.
Kekhawatiran juga muncul ketika para ahli diminta menilai gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Prabowo. Sebanyak 83 persen menyatakan sangat khawatir, sedangkan 10 persen lainnya mengaku khawatir.
Dengan demikian, total 93 persen ahli menyatakan khawatir atau sangat khawatir terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Presiden.

