Kabut Asap Ancam F1 Singapura, BKO Polhut Dikerahkan Padamkan Karhutla Riau-Kalimantan

Kabut-Asap-Karhutla-Makin-Pekat-Pemko-Pekanbaru-Terapkan-Pembelajaran-Jarak-Jauh.jpg
Kabut asap menyelimuti Kota Pekanbaru (Defri Candra/Riau Online)

RIAU ONLINE - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Indonesia mengancam gelaran F1 di Singapura yang bakal digelar akhir pekan ini. Kabut asap tersebut dinilai mengganggu kualitas udara hingga menyelimuti kawasan Singapura.

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menyatakan pihaknya terus memperkuat pemadaman darat dengan menerjunkan personel dari berbagai wilayah ke daerah rawan.

"Memang yang sekarang harus dilakukan ada di lapangan, memperkuat pasukan darat. Kalau di Kementerian Kehutanan ada Manggala Agni, kita juga BKO-kan polisi kehutanan dari seluruh Indonesia ke enam provinsi rawan karhutla, terutama Kalbar, Kalteng, Kalsel, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan," kata Rohmat di Fakultas Kehutanan UGM, Jumat, 9 Oktober 2026, dikutip dari kumparan.

Rohmat menambahkan, Presiden Prabowo Subianto telah menyalurkan bantuan ke pemerintah daerah guna mendukung pemadaman lapangan yang melibatkan kolaborasi TNI-Polri. Penanganan juga diperkuat lewat jalur udara.

"Bukan hanya pemadaman darat, tetapi diupayakan terus water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, OMC ini syaratnya harus ada awan semai yang terbentuk," ujarnya.



Rohmat menjelaskan bahwa Presiden Prabowo telah berkomunikasi dengan pimpinan negara tetangga terkait isu transboundary haze (asap lintas batas).

"Presiden sudah melakukan komunikasi dengan pimpinan negara sahabat, terutama Malaysia dan Singapura, untuk bersama-sama memperkuat kerja sama penanganan karhutla," tutur Rohmat.

Ia mengungkapkan, Indonesia saat ini tengah menghadapi fenomena El Nino yang cukup kuat, mirip dengan kondisi tahun 2015 saat luas karhutla mencapai 2,6 juta hektare. Sebagai perbandingan, kolaborasi lintas pihak pada 2025 berhasil menekan luas kebakaran hingga sekitar 350.000 hektare.

Rohmat menyebut karhutla akibat fenomena iklim global ini juga dialami negara lain. Luas kebakaran hutan terbesar di dunia saat ini terjadi di Kongo yang mencapai 13 juta hektare, disusul Australia seluas 11 juta hektare.

Guna memperkuat penanganan ke depan, pemerintah berencana membentuk Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional. Langkah ini dinilai krusial mengingat karhutla di lahan gambut menjadi penyumbang asap terbesar.

"Tantangan terbesar kita adalah penanganan karhutla di lahan gambut. Kalau sudah kering, gambut menjadi bahan bakar yang sangat hebat dan produksi asapnya luar biasa. Ketika terbawa angin, asap itu bisa menuju ke negara-negara sahabat," pungkasnya.