Panglima TNI: Awal Oktober Waktu Memungkinkan Hujan Buatan di Riau

Kedatangan-Panglima-TNI.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kemarau panjang yang melanda Riau hingga Oktober 2019 mendatang, berakibat lahan gambut yang sudah terbuka tutupan atasnya mudah terbakar. Kondisi ini tidak memungkinkan untuk dilakukan pembenihan garam di awan untuk hujan buatan.

Solusinya, Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, akan mengirimkan pesawat Hercules Pengebom Air sebagai upaya mempercepat penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) saat ini terus meluas di sejumlah daerah di Provinsi Riau.

"Waterbombing pun kita melihat sumber air sampai kebakaran cukup jauh. Sehingga ada upaya-upaya dengan mengerahkan Hercules," jelas Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Senin malam, 13 Agustus 2019, di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

 

Pengiriman Hercules untuk pemadaman kebakaran di Riau tersebut, tuturnya, usai ia menerima laporan upaya pemadaman menggunakan helikopter, tidak efektif. Pasalnya, sumber air dan jarak ke lokasi Karhutla cukup jauh.

"Kita ada upaya-upaya mengerahkan Hercules untuk melaksanakan pengeboman dengan bola air," kata Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Panglima TNI mengatakan, cuaca di Provinsi Riau cenderung panas hingga akhir Oktober 2019 mendatang. Bahkan, kemungkinan dilakukannya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk hasilkan hujan buatan, baru bisa dimungkinkan dilakukan awal Oktober mendatang.

"Setelah kami dapat informasi dari BMKG, kemungkinan curah hujan akan bisa kita kelola untuk hujan buatan awal Oktober. Bulan ini, hingga Oktober alami kekeringan. Upaya kita lakukan dengan water bombing," ujarnya.

Upaya pemadaman kebakaran dengan pengeboman air bisa dilakukan karena pemadaman titik-titik api melalui darat, tak bisa dijangkau. Selama ini, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Riau mengandalkan operasi pengeboman air menggunakan tujuh helikopter bantuan BNPB serta sejumlah helikopter lainnya dari perusahaan dan KLHK.

Panglima TNI datang ke Riau bersama dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Munardo dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. 

Setibanya di Riau, Hadi beserta rombongan mendengarkan pemaparan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru serta Gubernur Riau, Syamsuar.

Rombongan Panglima TNI direncanakan akan mengunjungi wilayah terdampak Karhutla di Kecamatan Langgam, Pelalawan. Kecamatan yang menjadi kampung halaman Bupati Pelalawan, HM Harris itu, mengalami kebakaran cukup parah sepanjang Agustus 2019 ini. Langgam menjadi penyumbang kabut asap di Kota Pekanbaru dan sekitarnya.

Berdasarkan laporan Satgas Karhutla Riau, lebih dari 4.900 hektare lahan yang mayoritas gambut terbakar di wilayah itu sepanjang 2019 ini. Lebih dari 2.000 hektare diantaranya terjadi dalam rentang waktu Juli Agustus 2019.

Masifnya kebakaran di Riau berdampak pada kabut asap yang mengepung sejumlah daerah di wilayah itu. Salah satu wilayah terparah dikepung asap adalah Pekanbaru, sampai akhirnya ibu kota Riau tersebut menetapkan status darurat kabut asap.