Aktual, Independen dan Terpercaya


Peningkatan titik panas, Kebakaran Lahan Menghantui Masyarakat Riau

Karhutla-Ulu-Kasok.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

 Oleh: Aulia Putra

Memasuki Bulan Agustus ini titik panas kebakaran hutan kembali mengalami peningkatan di berbagai daerah di Provinsi Riau. Seperti yang di sampaikan Kepala Pelaksana (KALAKSA) Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) Riau Edwar Sanger bahwa titik panas dalam dua pekan terakhir mengalami peningkatan di 11 Kabupaten/Kota Di Provinsi Riau.

Kebakaran hutan paling luas berada di Kabupaten Kepulauan Meranti (938,31 ha) dan yang paling rendah berada di Kabupaten Kuantan Singingi yang tidak terdeteksi adanya kebakaran hutan.

Provinsi Riau dikatakan sebagai daerah yang kondisi tanahnya dominan tanah gambut. Musim panas Di Bulan Agustus dan September menyebabkan tanah gambut menjadi Kering dan mudah terbakar. 
Tanah gambut yang mengalami kebakaran sangat sulit untuk dipadamkan karena api bisa membakar mencapai 3 meter.

Tanah gambut yang menjadi Salah satu sumber karbon terbesar bagi bumi, ketika terbakar maka akan menghasilkan asap yang sangat tebal.

Saat Ini Kepala Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Sukisno mengatakan pertengahan Aguastus titik panas terpantau meluas sebanyak 65 titik panas di Riau dengan tingkat kepercayaan 70%.

Titik panas berpotensi terjadi penambahan, dikarenakan rendahnya curah hujan di Bulan Agustus ini. Sekarang tanah gambut di Provinsi Riau sangat mudah terbakar karena kondisi tanah yang kering

Peningkatan titik panas tentunya akan membuat masyarakat Riau menjadi sangat cemas. 
Setiap tahunnya di bulan yang sama selalu mengalami peningkatan kebakaran hutan di Riau karena agustus dan september merupakan bulan pancaroba menjadi sulit untuk di prediksi.

Di tahun 2016 Dan 2017 kebakaran hutan tidak menyebabkan kabut asap yang parah di Riau. Ini juga karena tingginya curah hujan sehingga memudahkan BPBD dalam menangani Karhutla.

 

Kebakaran hutan di agustus dan september pada tahun 2015 merupakan kebakaran hutan terakhir paling luas di Riau.

Kebakaran saat itu menyebabkan kabut asap yang sangat tebal di Provinsi Riau bahkan Indonesia. Kebakaran ini menyebabkan penderitaan bagi Masyarakat Riau mulai dari kesehatan salah satunya penyakit saluran pernafasan sampai kepada ekonomi menyebabkan lumpuhnya perekonomian selama satu Bulan.

Kebakaran hutan pada tahun 2015 menjadi pengingat bagi masyarakat Riau untuk menjaga kebun dan hutan. Menjadi Negara Yang berdaulat, masyarakat adalah benteng utama dalam menjaga dan mencegah terjadinya kebakaran hutan.

Selain itu, Provinsi Riau juga merupakan provinsi industri perkebunan. Banyaknya perusahaan besar yang ada di Provinsi Riau tentu akan membantu aparat pemerintah dalam mengawasi kebakaran lahan dan hutan

Hal ini tentu harus diwaspadai beberapa oknum yang memanfaatkan momen ini sebagai kepentingan pribadi dan kelompok untuk melakukan perluasan lahan yang dapat merugikan orang banyak.

 Memang saat ini kondisi ISPU Di Riau masih tergolong sedang. Kondisi Tanah yang berpotensi terbakar perlu waspada saat curah hujan masih rendah.

Apakah Riau Kembali merasakan asap tebal seperti ditahun 2015? Atau cuaca Kembali membantu Dalam mengatasi terjadinya kebakaran?

**Penulis adalah Menteri Lingkungan Hidup Badan eksekutif Mahasiswa Universitas Riau