RIAU ONLINE, PEKANBARU — Aroma manis bercampur tajam khas durian langsung menyergap begitu memasuki kawasan Jalan Sembilang, Rumbai. Di bawah tenda biru, lapak milik Heri dari siang hari sudah ramai disinggahi.
Tumpukan durian dari Sumatera Barat yang baru tiba siang itu seolah memanggil para pecinta si “raja buah” untuk datang mencicipi musim panen tahun ini.
Heri, pria yang sudah hampir sepuluh tahun berjualan durian, menyambut setiap pelanggan dengan senyum ramah. Di tangannya, buah berduri itu tampak seperti barang berharga yang harus diperlakukan dengan penuh hati-hati.
"Ini semua baru datang dari Sijunjung dan Lintau. Dua daerah itu memang juara kalau soal rasa,” ujarnya sambil menepuk-nepuk beberapa durian untuk menunjukkan bunyinya.
Setiap musim durian tiba, lapaknya berubah menjadi arena perburuan. Para pelanggan datang dengan beragam selera dan standar kenikmatan. Ada yang mencari durian manis legit, ada yang menginginkan sensasi sedikit pahit, bahkan sebagian mengincar tekstur tertentu lembut, kering, dan tidak berair.
Menurut Heri, durian dengan kombinasi rasa manis dan pahit tipis adalah yang paling banyak dicari.
“Orang bilang itu rasa durian ‘jujur’. Ada manisnya, ada pahitnya sedikit, dan aromanya bikin tak sabar mau buka,” katanya sambil tertawa kecil.
Soal harga, ia menawarkan pilihan yang memanjakan pembeli. Dengan Rp100 ribu, pelanggan bisa memilih lima buah berukuran kecil, empat buah ukuran sedang, atau tiga hingga dua buah untuk ukuran besar.
Harga itu, katanya, sudah disesuaikan dengan kualitas durian dari Sumatera Barat yang terkenal punya daging tebal dan rasa yang konsisten. Di balik kesibukannya melayani pelanggan, Heri tak pelit berbagi tips memilih durian berkualitas pengetahuan yang ia kumpulkan dari pengalaman bertahun-tahun.
Ia mengajak pembeli melihat bentuk durian yang cenderung bulat, karena biasanya buahnya berisi merata. Ia juga meminta mereka mencium aroma alami durian. Semakin kuat aromanya, semakin besar kemungkinan buah itu matang sempurna.
Heri kemudian memperagakan cara mengetuk durian. Suara “dum-dum” yang padat menandakan dagingnya tebal dan tidak lembek. Tangkai durian pun menjadi petunjuk penting, tangkai yang masih segar dan tidak kering berarti durian baru dipanen dan tidak disimpan terlalu lama.
“Terkadang durian besar belum tentu enak. Yang penting itu tanamannya, tempat tumbuhnya, dan matangnya alami. Kalau sudah matang pohon, rasanya pasti beda,” kata Heri sambil memotong salah satu durian untuk pelanggan yang tak sabar ingin mencicipi.
Saat durian itu dibuka, daging kuning pekat langsung tampak, mengeluarkan aroma yang membuat siapa saja menelan ludah. Suasana di sekitar lapak seketika dipenuhi tawa dan seruan puas dari para pembeli yang menemukan durian impian mereka.
Seorang pelanggan bahkan berseloroh, “Kalau duriannya begini, salah pilih pun tetap enak!”
Musim durian memang selalu membawa cerita tersendiri. Dari sekadar berburu kudapan sore hingga menjadi ajang berbagi pengalaman antar sesama pecinta durian.
Di Rumbai, Heri dan tumpukan duriannya seolah menjadi titik temu rasa, aroma, dan kenangan.
Bagi banyak orang, durian bukan sekadar buah, ia adalah ritual. Sensasi menunggu kulit berduri dibelah, melihat daging kuning tersingkap, kemudian merasakan kelembutannya meleleh di lidah adalah momen yang tak tergantikan.
Dan bagi Heri, setiap durian yang ia pilihkan untuk pelanggan adalah undangan kecil untuk menikmati kebahagiaan yang sederhana namun penuh makna.

