RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kapolda Riau, Irjen Pol Arman Achdiat menyatakan perang terhadap jaringan narkoba internasional yang menjadikan wilayah pesisir timur Provinsi Riau sebagai jalur masuk sabu dari Malaysia ke Indonesia.
Lukisan Akpol 1992 itu menegaskan, pemberantasan narkoba tidak akan berhenti pada penangkapan kurir, tetapi akan terus dikembangkan untuk membongkar jaringan hingga ke akar-akarnya.
Pernyataan tegas itu disampaikan Arman menyusul pengungkapan kasus peredaran narkotika jenis sabu seberat 34,9 kilogram dengan lima orang tersangka.
Barang haram tersebut ditaksir memiliki nilai ekonomi mencapai Rp62,9 miliar dan diperkirakan dapat menyelamatkan sekitar 175.000 jiwa dari ancaman penyalahgunaan narkoba.
Pengungkapan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan program Quick Wins yang diperintahkan Kapolri, khususnya melalui Operasi Sarang Narkoba.
Polda Riau terus meningkatkan intensitas penindakan untuk memutus mata rantai peredaran narkotika yang diduga melibatkan jaringan internasional.
Arman mengatakan, pengungkapan sabu seberat puluhan kilogram itu merupakan hasil penyelidikan dan pemetaan jaringan yang telah dilakukan aparat kepolisian selama beberapa waktu terakhir.
"Lakukan suatu kegiatan di mana ini adalah merupakan program Quick Wins yang sudah diperintahkan oleh Bapak Kapolri, terutama masalah Operasi Sarang Narkoba," ujar Arman, Selasa, 27 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, pengungkapan tersebut dilakukan setelah polisi melakukan serangkaian tindakan terhadap jaringan yang diduga memasok narkoba dari Malaysia melalui kawasan pesisir timur Riau.
"Dari 34,9 kilo ini, kita nilai dengan rupiah sekitar Rp62,9 miliar, dengan jiwa yang terselamatkan sekitar 175 jiwa," katanya.
Kapolda mengungkapkan, wilayah Riau masih menjadi salah satu daerah yang rentan dimanfaatkan sebagai pintu masuk narkotika dari Malaysia. Kondisi geografis yang memiliki kawasan pesisir luas serta sejumlah pelabuhan dan jalur laut dinilai menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengawasan.
Sejumlah wilayah yang menjadi perhatian aparat di antaranya Dumai, Pulau Rupat, Bengkalis, serta kawasan pesisir timur Provinsi Riau lainnya.
Menurut Arman, barang bukti sabu yang diungkap kali ini berasal dari lokasi berbeda dengan pengungkapan sebelumnya.
Jika sebelumnya aparat melakukan pengungkapan di Pulau Rupat, kali ini barang bukti yang dipaparkan berasal dari wilayah Bengkalis.
Meski berbeda lokasi, kedua pengungkapan tersebut diduga memiliki keterkaitan dari sisi sumber pasokan, yakni Malaysia.
"Hari ini kita kerja sama dengan Dirjen Bea Cukai terkait masalah tempat masuk dari luar menuju Indonesia di wilayah Dumai. Namun, untuk barang bukti yang sudah ada di hadapan rekan-rekan ini berada di lokasi yang berbeda dengan yang sebelumnya. Yang sebelumnya ada di Pulau Rupat, sekarang dari Bengkalis," jelasnya.
Arman menegaskan, kesamaan sumber pasokan tersebut menjadi perhatian serius aparat untuk menelusuri jalur distribusi dan pihak-pihak yang berada di balik pengiriman narkotika lintas negara.
"Sumbernya sama. Sumbernya dari wilayah Malaysia," tegasnya.
Karena itu, Polda Riau meningkatkan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk memperketat pengawasan terhadap jalur masuk narkotika, khususnya melalui kawasan pesisir dan pelabuhan yang berpotensi dimanfaatkan jaringan penyelundupan.
Kerja sama lintas instansi tersebut diharapkan mampu mempersempit ruang gerak pelaku sekaligus mencegah narkotika masuk dan beredar di wilayah Riau.
Arman menyebut, jaringan yang menjadi sasaran penyelidikan diduga menggunakan pola operasi yang selama ini telah dipantau kepolisian.
Hasil pemetaan tersebut menjadi salah satu dasar bagi aparat untuk menentukan langkah penindakan berikutnya.
Ia mengatakan, pengungkapan yang dilakukan di dua lokasi berbeda memperlihatkan pentingnya pengembangan penyidikan secara berkelanjutan, terutama untuk mengetahui jalur pengiriman, peran masing-masing pelaku, serta pihak yang mengendalikan jaringan tersebut.
"Ini merupakan suatu pola baru jaringan internasional yang selama ini kita intai, sehingga apa yang sudah mereka lakukan selama ini sebenarnya sudah kita gambar, sudah kita mapping," ungkap Arman.
Ia menyebut, kepolisian telah mengantongi sejumlah nama yang akan didalami untuk mengungkap lebih jauh jaringan internasional yang diduga berada di balik peredaran sabu tersebut.
"Kami sudah mendapatkan nama yang akan kami dalami jaringan ini," ujarnya.
Arman menegaskan, penindakan tidak akan berhenti hanya karena sejumlah barang bukti berhasil disita. Polda Riau akan terus mengembangkan penyelidikan guna mengidentifikasi dan membongkar jaringan yang lebih luas.
Ia juga berharap pihak-pihak terkait di Malaysia dapat mengambil langkah untuk menghentikan jalur pengiriman narkotika yang selama ini diduga mengarah ke wilayah Indonesia melalui Selat Malaka.
"Mudah-mudahan dari pihak mereka pun ada respons untuk menghentikan jalur keluar dari wilayah Malaysia, terutama di bagian barat Semenanjung, Selat Malaka," katanya.
Dalam pernyataannya, Arman menyampaikan kemarahan dan keprihatinan atas dugaan upaya jaringan internasional memanfaatkan wilayah Riau sebagai jalur distribusi narkotika.
Arman pun melontarkan peringatan keras kepada para pelaku dan jaringan yang diduga berada di balik penyelundupan tersebut.
"Ada beberapa orang yang sudah kita ikuti, sudah kita mapping, jaringan internasional Malaysia ini yang memang akan merusak bangsa kita, terutama di Provinsi Riau. Akan saya hentikan, akan saya basmi sampai ke akar-akarnya," tegasnya.
Ia menegaskan, Riau bukan wilayah yang bisa diperlakukan sebagai tempat percobaan untuk menguji pasar peredaran narkoba di Indonesia.
"Jangan mereka menganggap kita ini sebagai kelinci percobaan untuk penjualan narkoba di wilayah Indonesia, terutama di wilayah Riau. Saya tidak akan main-main!" ujarnya.
Arman juga menyinggung dugaan penggunaan berbagai jalur distribusi oleh jaringan narkotika, termasuk jalur laut dan darat.
Menurutnya, pola tersebut harus diantisipasi melalui pemetaan yang cermat, pengawasan yang lebih ketat, serta penindakan terhadap seluruh pihak yang terlibat.
"Mereka membentuk becak laut, becak darat, mereka yang rekrutmen. Kita dijadikan korban sama mereka," katanya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa kepolisian akan mengarahkan penindakan tidak hanya kepada pelaku yang ditemukan membawa atau menyimpan narkotika, tetapi juga pada upaya mengungkap struktur jaringan dan pola distribusinya.
Kapolda Riau menegaskan, pemberantasan narkotika menjadi salah satu prioritas yang akan terus dijalankan.
Ia memastikan jajaran Polda Riau tidak akan berhenti melakukan penindakan terhadap jaringan yang berupaya memasukkan narkoba melalui wilayah pesisir timur Riau.
Menurut Arman, langkah tersebut membutuhkan kerja berkelanjutan, mulai dari pengumpulan informasi, pemetaan jaringan, pengawasan jalur masuk, hingga pengembangan perkara berdasarkan hasil pengungkapan di lapangan.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan instansi lain, termasuk Bea Cukai, untuk mempersempit jalur penyelundupan dari luar negeri.
"Saya nyatakan perang, khusus narkoba, tidak ada ampun buat Riau," Pungkas Arman.

