Kasus DBD di Pekanbaru Tembus 534 Kasus, Satu Warga Meninggal Dunia

Ilustrasi-DBD2.jpg
Ilustrasi DBD (kumparan)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Pekanbaru terus menjadi perhatian. Hingga akhir Juli 2026 atau pekan ke-30, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencatat 534 kasus DBD sejak awal tahun.

Dari ratusan kasus tersebut, satu warga dilaporkan meninggal dunia. Korban merupakan warga Kecamatan Tuah Madani dan saat ini penyebab kematiannya masih dalam proses penyelidikan epidemiologi oleh Dinas Kesehatan Pekanbaru.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Deddy Sambudi, mengatakan penyelidikan dilakukan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan kondisi korban hingga berujung meninggal dunia.

"Satu orang meninggal dunia, warga Kecamatan Tuah Madani. Kita melakukan penyelidikan epidemiologi apa yang menyebabkan," kata Deddy, Kamis 13 Agustus 2026.

Deddy menyebut Kecamatan Tuah Madani menjadi wilayah dengan jumlah kasus DBD tertinggi di Pekanbaru. Hingga pekan ke-30, tercatat 86 kasus di wilayah tersebut. Posisi kedua ditempati Kecamatan Marpoyan Damai dengan 85 kasus.

Selanjutnya, Kecamatan Bukit mencatat 66 kasus, Binawidya 44 kasus, Tenayan Raya 44 kasus, Payung Sekaki 39 kasus, Rumbai 33 kasus, Rumbai Timur 32 kasus, Limapuluh 31 kasus, dan Kulim 28 kasus.

Sementara Kecamatan Sail dan Rumbai Barat masing-masing mencatat 11 kasus. Kemudian Senapelan dan Sukajadi masing-masing terdapat 10 kasus. Sedangkan Kecamatan Pekanbaru Kota menjadi wilayah dengan jumlah kasus paling rendah, yakni empat kasus.



Data tersebut menunjukkan penyebaran DBD masih terjadi di hampir seluruh wilayah Kota Pekanbaru dengan tingkat kasus yang berbeda-beda. 

Meski jumlah kasus telah mencapai 534, Deddy memastikan saat ini tidak ada pasien DBD yang masih menjalani perawatan. Seluruh pasien yang sebelumnya mendapatkan perawatan telah dinyatakan sembuh.

"Untuk pasien yang dirawat tidak ada, sudah sembuh. Kami mengimbau masyarakat agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat," ujarnya.

Dinas Kesehatan Pekanbaru terus melakukan langkah pencegahan untuk menekan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Upaya yang dilakukan antara lain melalui fogging di wilayah yang membutuhkan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk.

Selain intervensi dari pemerintah, masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam mencegah peningkatan kasus DBD.

Warga diminta menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan tidak ada genangan maupun wadah yang dapat menampung air dan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Pemberantasan sarang nyamuk juga perlu dilakukan secara rutin, terutama dengan menguras tempat penampungan air, menutup wadah yang dapat menampung air, serta mengurangi atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Dengan kasus yang telah mencapai 534 sejak Januari hingga akhir Juli, kewaspadaan masyarakat perlu terus ditingkatkan.

Terlebih, satu warga telah meninggal dunia akibat kasus DBD yang masih dalam penyelidikan. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan dan deteksi dini tetap menjadi kunci untuk mencegah kasus DBD berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.