China Rangkul Korut Demi Hadapi Amerika di Asia

Presiden-China-dan-Korea-Utara.jpg
(REUTERS)

RIAU ONLINE, SEOUL - Ambisi China di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping sebagai negara besar setara dengan Amerika Serikat, semakin menjadi-jadi. 

 

Ini terlihat dari persaingan antara Poros Beijing, China dengan Washington DC, Amerika Serikat sisi lainnya dalam merebut kekuasaan dan pengaruh di kawasan Asia. Termasuk hasrat China menggapai Korea Utara akhir-akhir ini.

 

"Dalam proses berurusan dengan Amerika, Presiden Xi mengkaji-ulang makna strategis Korea Utara. Jadi China berusaha keras memulihkan hubungan dengan Korea Utara," kata Pakar China di Universitas Korea di Seoul, Profesor Suh Jin-young, Jumat (7/11/2015). 

 

Beijing masih bersepakat dengan Washington dan Seoul tentang program nuklir Pyongyang, Korea Utara, harus dilenyapkan. Tetapi China tidak dapat menerima tujuan jangka panjang Washington dan Seoul untuk mengubah Semenanjung Korea yang terpecah dua menjadi satu Korea demokratis dan pro Amerika di perbatasannya.

 

Beijing juga meragukan kebijakan Washington yang mengucilkan Korut secara diplomatik dan mengenakan sanksi, guna mendesak Pyongyang menghentikan program nuklirnya dan kembali ke perundingan enam pihak, bakal berhasil.

 

Di bawah Perjanjian Bersama Enam Pihak Tahun 2005 antara Amerika, China, Russia dan Jepang-Korea Utara bersedia membongkar program nuklirnya sebagai imbalan mendapat bantuan ekonomi, jaminan keamanan serta hubungan diplomatik yang lebih baik.

 

Korea Utara akhirnya meninggalkan perjanjian itu dan melakukan tiga ujicoba nuklir. Inilah menyebabkan PBB menjatuhkan sanksi dan hubungannya dengan China menjadi tegang.

 

Presiden Xi belakangan ini memperbaiki hubungan itu dengan mengirim delegasi tingkat tinggi ke perayaan ulang tahun berdirinya partai pendiri Korea Utara. Juga ada laporan tentang meningkatnya perkembangan ekonomi di kawasan perbatasan antara kedua negara.

 

Pejabat-pejabat di Seoul mengatakan, sejak itu sikap Pyongyang mengekang diri yang lain dari biasa bekerjasama dengan Seoul mempertemukan keluarga terpisah dan tidak memenuhi ancamannya hendak meluncurkan roket jarak jauh.

 

Atau juga melakukan ujicoba nuklir yang ke-empat, sebagian adalah akibat pengaruh Beijing. Dalam jangka pendek, kata Profesor Suh, Beijing menggunakan pengaruhnya dalam cara yang membangun memisah Seoul dari posisi Washington bahwa Pyongyang mesti menghentikan program nuklirnya sebelum pembicaraan baru dapat dimulai.

 

"Bebas nuklir adalah tujuan yang dapat dicapai pada akhir suatu proses yang panjang, dan adalah tidak lazim bagi Korea Utara menjadi yang pertama memaklumkan tujuan tersebut," ujar Suh.

 

Tujuan jangka panjang China, katanya, ialah mencoba menstabilkan Korea Utara sebagai penyangga terhadap Korea Selatan sekutu Amerika.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline