DPR Minta Sekolah Rusak Akibat Gempa NTT Segera Diperbaiki

DPR-Minta-Sekolah-Rusak-Akibat-Gempa-NTT-Segera-Diperbaiki.jpg
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meninjau lokasi terdampak gempa di NTT. (ANTARA/HO-Kemendagri)

RIAU ONLINE, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani minta percepatan perbaikan sekolah yang rusak akibat gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lalu mengatakan, pemerintah harus menempatkan keselamatan peserta didik sebagai prioritas Utama dalam penanganan bencana.

"Pemerintah pusat dan daerah harus mempercepat pencairan anggaran, memperbaiki fasilitas sekolah, dan memberikan dukungan kepada guru serta siswa yang terdampak," kata Lalu, dikutip dari ANTARA, Selasa, 18 Agustus 2026.

"Jangan sampai anak-anak menjadi korban kedua karena proses pemulihan pendidikan berjalan lambat," imbuhnya.

Ia kemudian meminta pemerintah pusat dan daerah segera melakukan pendataan menyeluruh terhadap tingkat kerusakan setiap sekolah terdampak untuk menentukan langkah penanganan secara tepat. Menurut dia, sekolah yang bangunannya dinilai tidak aman tidak boleh digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sebelum dinyatakan layak.



Selain itu, menurut Lalu, pemerintah juga perlu menyediakan ruang belajar sementara agar proses pendidikan tetap berjalan selama perbaikan sekolah dilakukan.

Lebih lanjut, untuk jangka panjang, dia meminta pembangunan kembali sekolah yang rusak tidak sekadar memperbaiki bangunan lama. Sekolah yang direhabilitasi maupun dibangun kembali, ujar dia, harus memenuhi standar konstruksi tahan gempa agar lebih aman dan tangguh menghadapi potensi bencana di masa mendatang.

"Pemerintah tidak boleh hanya memperbaiki bangunan lama. Sekolah yang dibangun kembali harus menggunakan standar konstruksi tahan gempa agar lebih aman dan tangguh," katanya.

Selain perbaikan fisik, Lalu Hadrian mendorong penguatan mitigasi bencana di lingkungan sekolah, terutama di daerah yang memiliki risiko bencana tinggi seperti NTT.

Menurutnya, penguatan mitigasi dapat dilakukan melalui penyediaan jalur evakuasi, simulasi gempa secara berkala, pelatihan bagi guru, serta edukasi dan peningkatan kesiapsiagaan siswa.

Diketahui berdasarkan data Kemendikdasmen per 16 Agustus 2026, gempa telah merusak 253 sekolah dari berbagai jenjang di NTT. 

Kerusakan paling parah tercatat di Kabupaten Manggarai dengan 104 sekolah, disusul Manggarai Timur (52 sekolah), Nagekeo (44 sekolah), Ende (39 sekolah), Ngada (35 sekolah), Sikka (27 sekolah), dan Manggarai Barat (23 sekolah). (ANTARA)