RIAU ONLINE, PEKANBARU - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat berdasarkan perkembangan indeks harga konsumen dari Agustus 2025, Riau mengalami inflasi sebesar 1,11 persen pada September ini.
Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, menyebut Riau menjadi penyumbang angka inflasi tertinggi di Indonesia. Sementara secara nasional, ada 24 dari 38 provinsi yang mengalami inflasi dan sisanya terjadi deflasi.
Riau juga mencatatkan angka inflasi tertinggi di Sumatera. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Lampung.
"Secara nasional ternyata Riau menjadi inflasi tertinggi secara bulanan (month to month). Inflasi nasional 0,21 persen, sedangkan inflasi Riau 1,11 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi di Papua Selatan, -1,08 persen," katanya, Rabu, 1 Oktober 2025.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok makanan dan minuman mengalami inflasi tertinggi yakni 3,01 persen. Kemudian perawatan pribadi dan jasa lainnya 1,33 persen dan pendidikan 0,05 persen.
Berdasarkan komoditas penyebab inflasi, yakni kenaikan harga cabai merah yang sangat luar biasa memberikan andil 1,11 persen. Selanjutnya harga emas perhiasan yang konsisten terus meningkat 0,10 persen dan lainnya ayam hidup, daging ayam bras, dan jeruk.
"Harga cabai merah naik dipengaruhi kondisi cuaca tidak menentu sehingga banyak petani mengalami gagal panen. Emas juga konsisten naik semakin tinggi karena pengaruh global," ungkapnya.
Sementara untuk inflasi tahunan (year on year) dari 38 provinsi yang mengalami inflasi 37 provinsi dan satu deflasi di Maluku Utara. Secara nasional urutannya yang paling tinggi Sumatera Utara dan kedua Riau sebesar 5,08 persen.
"Inflasi tahunan menjadi peringatan karena sudah sangat tinggi, dibanding target pemerintah yakni plus minus 2,5 persen. Yang signifikan kelompok makanan minuman dan tembakau yang inflasi 10,79 persen dengan andil 3,42 persen," sebutnya.
Komoditas utama penyebab inflasi tahunan juga cabai merah dan emas perhiasan diikuti bawang merah, daging, ayam beras, dan ayam hidup. Diketahui memang harga cabai merah di Pekanbaru bahkan sempat mencapai Rp100 ribu per kilogram akhir-akhir ini.(ANTARA)

