Riau Jadi Episentrum Karhutla Nasional, 4 Kabupaten Paling Membara

Personel-Minin-dan-Sulit-Air-Jadi-kendala-Pemadaman-Karhutla-di-Kampar.jpg
Petygas Manggala Agni lakukan pemadaman karhutla di Jalan Bupati, Kecamatan Siak Hulu dan Kecamatan Tapung Desa Karya Indah, Minggu, 20 Juli 2025. (Defri Candra/Riau Online)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Provinsi Riau masih jadi wilayah episentrum kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan luas lahan terbakar di Riau paling tinggi sepanjang 2025.

"Daerah paling dominan terbakar saat ini di Riau adalah Kabupaten Kampar, Siak, Bengkalis, dan Rokan Hilir," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam program siaran Disaster Briefing di Jakarta, Senin, 21 Juli 2025.

Hingga pertengahan Juli 2025, BNPB mencatat karhutla secara merata melanda 12 kabupaten/kota di Riau. Luasan lahan terbakar tertinggi berada di Kabupaten Kampar dan Kampar dan Bengkalis yang melampaui 100 hektare, kemudian Kabupaten Rokan Hilir, Siak hingga Indragiri Hilir lebih dari 50 hektare.

"Kota Pekanbaru seluas 21, 08 hektare atau bertambah seluas 6 hektare dari laporan kejadian pekan lalu dan api masih terus membara di kawasan terdampak," kata dia.


Abdul Muhari menjelaskan kawasan yang terbakar mayoritas merupakan lahan gambut - lahan mineral yang digunakan untuk aktivitas ekonomi masyarakat, juga ada yang masuk dalam wilayah konsesi hutan tanaman industri - kelapa sawit.

BNPB menyoroti pentingnya peningkatan pelaporan dan kesiapsiagaan di daerah, karena tidak semua kejadian karhutla segera dilaporkan saat terjadi eskalasi ke pusat.

Dia mengingatkan bahwa perubahan musim dan dinamika di lapangan juga menuntut perhatian bersama yang secara terus-menerus, hal ini penting jangan sampai asap kebakaran merugikan kesehatan masyarakat domestik atau bahkan wilayah negara tetangga.

"Kita minta pengelola perkebunan bisa secara aktif melihat kawasan yang mereka kelola, dan ikut bertanggung jawab. Jangan sampai pemerintah mengeluarkan anggaran banyak dan sudah memulai kesiapsiagaan sejak Februari tapi belum bisa teratasi," ujar Abdul.(ANTARA)