65 Tahun Provinsi Riau dan Perkembangan dalam Aspek Ekonomi

Heri-Afrizon.jpg
(Hand Over Via Riauonline)

RIAU ONLINE, PEKANBARU-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau akan memeriahkan Hari Jadi ke-65 Provinsi Riau, pada 9 Agustus 2022 mendatang.

Banyak kegiatan yang dikemas masing-masing OPD, Korporasi dan Masyarakat, misalnya di Dinas Pariwisata akan membuat turing bersama, kemping, E Sport, Senam Masal, Kompetisi Olahraga Tradisional, gelaran pasar murah di Pasar Tani BBI Marpoyan Damai, Seminar BPS Provinsi Riau dan Riau Berzikir. Seluruh kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan di Halaman Kantor Gubernur Riau.

Gubernur Riau Syamsuar menyampaikan bahwa kegiatan seperti bakti sosial kemasyarakat lebih ditonjolkan dan aktif dilibatkan masyarakat dalam menyemarakkan HUT Provinsi Riau tersebut.

Di sini, Penulis tertarik meninjau sejauh mana pembangunan ekonomi yang berjalan di usia 65 Tahun keberadaan Provinsi Riau.

Perlu kita ketahui, kilas balik perkembangan pembangunan ekonomi di Provinsi Riau antara lain dilihat dari Indikator-indikator antara lain mengenai Kependudukan, Ketenagakerjaan, Kemiskinan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Pertumbuhan Ekonomi, Gini Ratio, inflasi, ekspor impor, serta Nilai Tukar Petani (NTP).

Penulis akan menyajikan perkembangan ekonomi Provinsi Riau dilihat dari Data Statistik yang menjadi acuan dalam menyajikan tulisan ini di Tahun berjalan sampai Tahun 2022.

Selama empat dekade terakhir, penduduk Riau bertambah hampir tiga kali lipat yaitu dari 2,17 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 6,69 juta jiwa pada tahun 2022 dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 73 jiwa per km2 .
Penduduk Riau didominasi oleh Gen Z (lahir tahun 1997-2012) sebesar 28,65 persen. Ketenagakerjaan di Provinsi Riau pada tahun 2021 digerakkan oleh 3,23 juta Angkatan Kerja, yang terdiri dari 3,02 juta penduduk bekerja dan 203,84 ribu Pengangguran.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun 2021 sebesar 6,32 persen. Hal ini menunjukkan bahwa target pengurangan pengangguran yang ditetapkan oleh RPJMD 2005-2025 telah terpenuhi. Persentase penduduk miskin mengalami penurunan dari 7.78 persen (2017) menjadi 7,12 persen (2021).


Akibat pandemi COVID-19, sejak September 2020 persentase penduduk miskin kembali mengalami peningkatan. Capaian pembangunan manusia yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Riau cenderung meningkat setiap tahunnya. Namun, IPM Riau tahun 2021 mengalami kontraksi sebesar 0,40 persen.

Angka ini menurun 0,29 poin dari tahun 2019 dimana capaian pada tahun ini sebesar 72,71. Pandemi COVID-19 menjadikan Perekonomian Riau tahun 2021 berada di titik terendah selama 5 tahun terakhir.

Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Riau masih lebih baik jika dibandingkan nasional yang terkontraksi 2,07 persen. Total ekspor dalam satu tahun terakhir cenderung mengalami kenaikan, hanya mengalami penurunan pada bulan April dan Juni 2021.

Sementara itu, untuk impor cenderung stabil dalam satu tahun terakhir. Perbaikan ekonomi Riau terus berlanjut seiring membaiknya permintaan global dan domestik. Pada triwulan IV 2021, pertumbuhan ekonomi Riau tercatat terkontraksi sebesar -1,47% (yoy), mengalami perbaikan dibandingkan triwulan III 2021 yang terkontraksi sebesar -1,67% (yoy). Dari sisi penggunaan, membaiknya pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan IV 2021 terutama bersumber dari ekspor luar negeri dan konsumsi Pemerintah dan Konsumsi Rumah Tangga.

Perbaikan ketiga faktor tersebut sejalan dengan pemulihan ekonomi mitra dagang utama, percepatan realisasi anggaran pemerintah, serta meningkatnya aktivitas masyarakat saa perayaan Natal dan Tahun Baru. Dari sisi lapangan usaha, membaiknya permintaan ekspor dan domestik berdampak pada perbaikan kinerja di berbagai Lapangan Usaha (LU).

Kinerja Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan terus tumbuh positif terutama bersumber dari subsektor Perkebunan seiring meningkatnya permintaan ekspor. Kinerja Lapangan Usaha, Informasi dan Komunikasi serta Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial juga tumbuh positif sejalan dengan masih tingginya permintaan akan komunikasi data dan layanan kesehatan terkait dampak pandemi COVID-19.

Lantas bila kita lihat di tahun ini, yang merupakan tahun recovery ekonomi secara Nasional di hadang dengan Perang antara Rusia dan Ukrania yang masih berlangsung akan berpengaruh terhadap ekonomi Global dan Ekonomi Nasional secara keseluruhan dimana masih banyak ketergantungan bahan baku Pasokan Pangan, Pertanian dan Suku Cadang bidang Industri Farmasi, Obat Obatan dan Engineering juga berpengaruh pada Perekonomian Daerah di Provinsi Riau.

Perbaikan Ekonomi Riau terus berlanjut sejalan dengan Perekonomian Global dan aktivitas Perekonomian Domestik. Pada triwulan I 2022, Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Riau diperkirakan membaik dibandingkan tahun 2021 sebelumnya dan akan keluar dari zona kontraksi.

Meningkatnya kinerja perekonomian global dan nasional seiring dengan implementasi vaksinasi Covid-19, berdampak positif terhadap perekonomian Riau yang utamanya bersumber dari komoditas berbasis SDA. Dari sisi penggunaan, sumber utama peningkatan pertumbuhan diperkirakan berasal dari peningkatan ekspor luar negeri dan peningkatan konsumsi rumah tangga. Sementara dari sisi lapangan usaha (LU), pendorong utama pertumbuhan diperkirakan berasal dari LU Industri Pengolahan dan LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.

Secara keseluruhan tahun 2022, ekonomi Riau diperkirakan tumbuh positif, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini didorong oleh membaiknya permintaan seiring adanya dorongan pemulihan ekonomi global dan juga nasional meskipun dilanda pengaruh perang Rusia dan Ukraina.

Kinerja ekspor diperkirakan terus membaik sehingga menjadi pendorong membaiknya daya beli masyarakat. Membaiknya permintaan juga mendorong pulihnya kinerja investasi terutama untuk penambahan kapasitas produksi.

Dari sisi lapangan usaha, kinerja seluruh Lapangan Usaha yang sebelumnya terdampak pandemi COVID-19 diperkirakan membaik. Meskipun demikian, kondisi perekonomian Riau juga masih dibayangi beberapa risiko (downside risk), di antaranya diperkirakan berasal dari, (Pertama) kepastian berakhirnya pandemi COVID-19 baik secara global maupun nasional; (Kedua) keberhasilan implementasi vaksin COVID-19; (Ketiga) phasing out minyak sawit dalam biodiesel di Uni Eropa yang lebih cepat dan pengenaan bea masuk anti subsidi.

Opini Oleh : HERI AFRIZON Kepala bidang Agribisnis  Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau