Inilah 10 Klub Liga 2 yang Kena Pengurangan Poin Sebelum Bertanding

Inilah-10-Klub-Liga-2-yang-Kena-Pengurangan-Poin-Sebelum-Bertanding.jpg
Daftar Klub yang Mendapatkan Pengurangan Poin (Instagram/Nusaliga)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Sebanyak 10 klub dari Liga 2 harus mengawali perjuangan mereka dengan beban pengurangan poin akibat sejumlah persoalan yang menjadi perhatian operator kompetisi, I League.

Pengurangan poin tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi klub-klub yang terkena sanksi. Pasalnya, mereka harus bekerja lebih keras sejak pertandingan pertama untuk mengejar ketertinggalan poin dan memperbaiki posisi di klasemen.

Direktur Utama I League, Ferry Paulus, menjelaskan bahwa persoalan yang menjadi dasar pengurangan poin cukup beragam. Namun, persoalan finansial menjadi salah satu faktor yang paling banyak ditemukan.

"Kan memang macam-macam. Selain yang lebih banyak itu sebenarnya di finansial, ya," ujar Ferry Paulus.

Selain persoalan finansial, sejumlah klub juga menghadapi persoalan terkait perpindahan homebase atau markas pertandingan.

Menurut Ferry, persoalan homebase tidak semata-mata berkaitan dengan stadion yang digunakan untuk bertanding. Hal yang paling fundamental adalah lokasi homebase yang didaftarkan oleh masing-masing klub serta wilayah administratif yang menjadi cakupannya.

"Homebase itu sebenarnya yang paling fundamental adalah homebase yang didaftarkan dan areanya area mana," jelasnya.

Ferry mencontohkan, perpindahan markas masih memungkinkan dilakukan dalam kondisi tertentu, terutama apabila perpindahan tersebut masih berada dalam wilayah yang diperbolehkan.

"Yang katakan kalau Jabodetabek kan masih memungkinkan," lanjutnya.

Hal serupa juga berlaku di sejumlah wilayah yang memiliki cakupan provinsi cukup luas. Ferry menyebut beberapa daerah di Kalimantan sebagai contoh.

"Terus kemudian ada beberapa daerah misalnya di Kalimantan seperti Banjarmasin, ya kan. Kalimantan Timur ada Balikpapan, ada Samarinda, itu masih masuk dalam area provinsi," katanya.



Namun, persoalan menjadi lebih rumit ketika perpindahan homebase dilakukan pada wilayah yang memiliki karakteristik berbeda, terutama di Pulau Jawa.

"Nah, yang agak susah itu adalah memang di Jawa Tengah," kata Ferry.

Meski demikian, Ferry menegaskan bahwa sebagian besar klub di Jawa Tengah tidak mengalami persoalan serius terkait ketentuan tersebut.

"Tapi sebagian besar di Jawa Tengah justru hampir enggak ada masalah," lanjutnya.

Menurut Ferry, persoalan yang lebih banyak mendapat perhatian justru datang dari klub-klub yang melakukan perpindahan atau memiliki persoalan homebase dengan jarak yang cukup jauh, khususnya klub yang berasal dari luar Pulau Jawa.

"Yang masalah justru yang jauh-jauh dari luar pulau," tegas Ferry.

Berdasarkan data pengurangan poin yang diterapkan pada awal kompetisi, terdapat 10 klub Liga 2 yang harus menerima konsekuensi berupa pengurangan poin.

PSBS Biak dan Persiba Balikpapan menjadi dua klub yang mendapat pengurangan poin paling besar, yakni masing-masing minus empat (-4) poin.

Dengan kondisi tersebut, kedua klub harus menghadapi tantangan berat sejak kompetisi dimulai. Mereka tidak hanya dituntut meraih kemenangan, tetapi juga harus mampu mengompensasi defisit poin yang sudah melekat di klasemen.

Di bawahnya terdapat Persiku Kudus yang harus memulai kompetisi dengan pengurangan dua poin (-2).

Sementara tujuh klub lainnya masing-masing mendapat pengurangan satu poin (-1). Mereka adalah Persipura, Persiraja, Kendal Tornado FC, Persela Lamongan, Sumsel United, PSIS Semarang, dan Semen Padang FC.

Dengan demikian, sebanyak 10 klub tersebut harus menjalani kompetisi dengan kondisi berbeda dibandingkan tim-tim lain yang memulai musim dari nol poin.

Situasi ini tentu membuat setiap pertandingan menjadi semakin penting. Bagi klub yang terkena pengurangan poin, hasil imbang sekalipun belum tentu cukup untuk memperbaiki posisi apabila pesaing mereka mampu meraih kemenangan.

Pengurangan poin ini juga menunjukkan bahwa perjalanan sebuah klub profesional tidak hanya ditentukan oleh performa pemain di lapangan.

Di balik persiapan menghadapi pertandingan, klub harus memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan operator kompetisi, mulai dari aspek finansial hingga persoalan administratif dan homebase.

Ferry Paulus mengungkapkan, persoalan finansial menjadi salah satu aspek yang cukup dominan dalam berbagai persoalan yang dihadapi klub.

Hal tersebut menjadi pengingat bahwa profesionalisme klub tidak hanya diukur dari kemampuan membangun skuad dan meraih kemenangan, tetapi juga dari kemampuan memenuhi kewajiban serta regulasi kompetisi.

Sementara untuk persoalan homebase, I League juga memiliki pertimbangan mengenai wilayah yang dapat digunakan klub agar perpindahan markas tetap sesuai dengan ketentuan.

Perpindahan antarkota yang masih berada dalam satu wilayah provinsi, misalnya, memiliki pertimbangan berbeda dengan perpindahan markas yang dilakukan hingga lintas pulau.

Karena itu, klub dituntut memahami sejak awal ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan persoalan di tengah kompetisi.