Ogah Naikkan Harga, Pedagang Nasi di Pekanbaru Pilih Untung Tipis saat Cabai Mahal

nasi-padang-di-Pekanbaru2.jpg
Warung Nasi Padang di Pekanbaru (RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Lonjakan harga cabai merah dalam beberapa hari terakhir membuat pedagang nasi di Kota Pekanbaru, Riau, menjerit. Mereka mengaku lebih memilih menahan diri dan tetap menjual dengan harga lama, meski keuntungan yang diperoleh menjadi sangat tipis.

Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional Pekanbaru sejak Senin lalu, harga cabai merah terus mengalami kenaikan signifikan. Hingga kini, harga komoditas tersebut berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal yang biasanya hanya Rp20 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.

Kenaikan harga ini diduga kuat dipengaruhi oleh terbatasnya stok cabai akibat musim kemarau di sejumlah daerah penghasil. Kondisi ini menekan pelaku usaha kuliner, termasuk pedagang Nasi Padang yang menjadi pengguna utama cabai dalam masakan mereka.

Salah satu pemilik warung makan di Jalan Teratai, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru, Fajar Muhardi, mengaku keuntungan yang diperoleh kini menurun drastis.


“Biasanya bisa untung sampai 40 persen, sekarang paling 10 persen saja. Kami lebih memilih untung sedikit daripada menaikkan harga, nanti pelanggan bisa kabur,” ujar Fajar, Jumat, 24 Oktober 2025.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga cabai merah agar pedagang kecil tidak terus merugi.

“Kalau harga bisa turun lagi seperti biasa, kami bisa bernapas lega,” tambahnya.

Lonjakan harga cabai merah ini bukan hanya berdampak pada pedagang nasi Padang, tetapi juga pada sektor kuliner lain di Pekanbaru yang menjadikan cabai sebagai bahan utama bumbu masakan.