Kisah Sunni Sang Penjaga Gerbang Syiah

Islamic-Cultural-Center-Jakarta.jpg
(SUARA.COM)

RIAU ONLINE - Sunni dan Syiah kerap disebut saling berseberangan. Tapi untuk Zainal, bingkai perseteruan keduanya justru diembuskan oleh orang-orang yang tak ingin kedua mazhab arus utama Islam sedunia ini bersatu sebagai saudara.

Zainal, sudah 15 tahun bekerja sebagai penjaga keamanan di Cultural Center (ICC) Jakarta, Jalan Buncit Raya No 35 RT1/RW7, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

"Orang-orang mengenal saya sebagai Babeh. Saya seorang Muslim Sunni, tulen,” tuturnya, melansir Suara.com, Senin, 28 Mei 2018.

Sebagai seorang Sunni, Zainal tak menampik adanya sejumlah perbedaan dengan Syiah. Namun, ia memastikan, bahwa perbedaan itu bukan prinsip atua yang berkaitan dengan masalah Ketuhanan.

Diakui Zainal, sebagai seorang Sunni, tidak mudah bekerja di kalangan Syiah. Bukan lantaran terdapat diskriminasi, melainkan pandangan orang-orang yang mengenalnya.

Misalnya, kata Zainal, sang istri yang sempat mempunyai pikiran negatif terkait Muslim Syiah, dan bahkan mencurigai dirinya sudah menjadi bagian jemaah tersebut.

“Dulu sekali, waktu kali pertama diterima bekerja di sini, istri saya curiga. Sempat kesal juga sih, karena tuduhan-tuduhannya semakin kebangetan,” tukasnya.

Bukan hanya istri, pandangan negatif dan kecurigaan juga ditunjukkan oleh tetangga rumahnya. Namun, bagi Zainal, kecurigaan itu wajar sebab masih banyak yang menyebar tuduhan-tuduhan salah terkait Syiah. Zainal hanya bisa tetap bersabar memberikan penjelasan kepada mereka.

“Saya jelaskan kepada mereka, bahwa tak ada yang perlu dicurigai atau bahkan ditakutkan dari saudara-saudara Muslim Syiah. Mereka tetap Islam seperti kita, dan persoalan mazhab, itu persoalan keputusan masing-masing orang,” jelasnya.

Apalagi, Zainal mengakui, meskipun bekerja di lingkungan Syiah, tak pernah sekali pun dirinya dibujuk atau bahkan dipaksa berpindah mazhab.

"Lucu memang, di kampung, saya sudah di cap Syiah. Biarkan orang mau bilang apa. Tidak ada yang namanya perbandingan apalagi membanding-bandingkan. Bagi saya semuanya sama, Islam, dan pengikutnya adalah manusia, yang penting itu, saling menghargai," tukasnya.

Zainal juga bercerita, jemaah Syiah dan ICC Jakarta seringkali dituduh tidak mau membaur dengan masyarakat sekitar maupun masjid-masjid Sunni.

Menurutnya, semua tuduhan itu tidak benar. Zainal mengatakan, seluruh jemaah Syiah yang sering datang maupun pengurus ICC Jakarta, menjalin hubungan baik dengan masyarakat.

Sejak dulu, sambungnya, ustaz-ustaz ICC Jakarta sering diundang oleh masjid-masjid sekitar dalam berbagai kegiatan.

Begitu juga sebaliknya, ICC Jakarta kerapkali mengundang tokoh-tokoh agama Sunni maupun masyarakat sekitar untuk mengikuti acara-acara mereka.

Orang-orang Islam yang bukan Syiah juga dipersilakan mengikuti ceramah-ceramah maupun pengajian di ICC Jakarta.

Zainal menjelaskan, Syiah dan Sunni seringkali dihadap-hadapkan karena ada kelompok yang masih mewarisi pola pikir era Orde Baru.

”Padahal, sejak tahun 1908-an, orang-orang yang berceramah itu benar-benar disorot pemerintah, bukan hanya Syiah, tapi juga Sunni. Kebebasan beragama itu ada kan baru saat zaman Presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid),” katanya.

Zainal menginsyafi, selain menjadi petugas keamanan ICC Jakarta, dirinya memunyai tanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan persaudaraan kedua mazhab Islam tersebut.

”Saya sudah memberikan penjelasan ke banyak orang mengenai Sunni-Syiah. Sebenarnya yang merecoki itu bukan Syiah, juga bukan Sunni, tapi di luarnya, itu banyak. Jadi kuncinya adalah, pelajari benar-benar ilmu agama, sehingga tak mudah diperdaya,” tandasnya.