Waspada Penipuan Modus Toko Aki di Aplikasi Peta, Warga Okura Tertipu Rp750 Ribu

Toko-aki-abal-abal.jpg
Toko aki aplikasi peta online (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pengalaman pahit dialami Yahya, warga kawasan Okura, Pekanbaru. Bermaksud mengganti aki mobilnya yang mendadak mati, ia justru menjadi korban modus dugaan penipuan toko aki abal-abal yang terdaftar di aplikasi peta online gratis. Akibatnya, Yahya merugi Rp750 ribu.

Kejadian bermula ketika mesin mobil yang dikendarai Yahya tiba-tiba mati saat hendak masuk ke sebuah gang di kawasan Okura, Pekanbaru. Ia menduga masalah berasal dari aki yang habis, Yahya berniat menggantinya saat itu juga. Namun, situasi tergolong sulit karena kondisi sudah menjelang malam dan mayoritas toko aki fisik telah tutup.

Kejadian itu dialami Yahya setelah mencari toko aki mobil di aplikasi peta online gratis. Pihak yang mengaku penjual aki yang ia temukan di aplikasi tersebut menawarkan layanan pemasangan aki di lokasi.

"Pas mau masuk gang, mobil tak mau hidup. Wah, ini yakin masalah aki. Ya sudahlah, sekalian diganti,” ujar Yahya saat menceritakan kronologi kejadian tersebut, Minggu, 18 Oktober 2026.

Untuk mencari solusi cepat, Yahya berinisiatif membuka aplikasi peta online gratis. Ia menemukan profil usaha bernama FD Baterai Pekanbaru yang menawarkan ulasan dan deretan foto meyakinkan.

"Tak ada yang mengangkat. Jadi, saya lihat deretan foto dan ulasannya. Lumayan bagus, terlihat terpercaya. Nah, berarti oke ini," tuturnya.

Yahya sempat menelepon nomor utama yang tertera di profil aplikasi peta online gratis tersebut, namun tidak mendapat jawaban. Karena membutuhkan penanganan mendesak, ia memeriksa foto spanduk toko dan menemukan nomor kontak lain yang bisa dihubungi via WhatsApp.

Komunikasi pun berlanjut melalui aplikasi pesan tersebut. Pihak yang dihubungi menyatakan bisa melayani pemasangan aki di lokasi kendaraan. Yahya kemudian mengirimkan titik lokasi mobilnya sesuai permintaan pihak tersebut.

"Ditanya, bisa pasang aki di lokasi ini? Dijawab, ‘bisa’, kemudian diminta mengirim lokasi, ya saya kirimkan,” katanya.

Dalam percakapan tersebut, penjual menawarkan aki seharga Rp750.000. Demi memicu percepatan pengiriman, Yahya tidak mempermasalahkan harga tersebut.

Meski Yahya sempat meminta agar pembayaran dilakukan setelah petugas sampai di lokasi, penjual bersikeras meminta uang muka terlebih dahulu. Yahya pun menyetujui dan mentransfer DP (down payment) sebesar Rp200 ke rekening MNC Bank yang diberikan penjual.



"DP Rp200.000. Harga aki dia menyebut Rp750.000. Ya, oke saja. Yang penting mobil hidup dulu," ungkapnya.

Setelah menyempatkan diri beristirahat dan salat, Yahya mengecek kembali pesan WhatsApp. Alih-alih mengabarkan kedatangan petugas pemasangan aki, pihak penjual justru mengarahkan Yahya untuk menghubungi nomor lain yang diakui sebagai nomor telepon atasannya.

Saat dihubungi, nomor kedua ini meminta Yahya untuk melunasi sisa pembayaran sebelum pesanan diproses dengan alasan aturan transaksi bagi pelanggan baru. Yahya yang ragu sempat mempertanyakan hal tersebut, namun akhirnya menuruti arahan dan mentransfer sisa uang sebesar Rp550.000. Dengan demikian, total uang yang sudah dikirimkan mencapai Rp750.000.

"Dia bilang, ‘karena ini pembelian perdana, lunasi dulu, Pak.’ Saya tanya, serius ini? Dia bilang serius," ungkap Yahya.

Setelah seluruh pembayaran lunas, Yahya menunggu kedatangan petugas. Namun, setelah ditunggu lebih dari 10 menit, tidak ada kabar maupun kejelasan respons dari pihak penjual. Pesan pertanyaan yang dikirimkan Yahya pun tak lagi dibalas.

"Sudah saya kirim, lalu saya tunggu sekitar 10 menit. Kok tidak ada respons? Katanya tadi mau mengecek dulu. Saya kemudian bertanya, ‘macam mana, Pak?’,” ujarnya.

Curiga dengan transaksi tersebut, Yahya memeriksa ulang foto-foto pada profil toko di aplikasi peta online gratis. Saat itulah ia menyadari adanya kejanggalan.

Nomor WhatsApp yang ia hubungi diduga merupakan nomor tempelan hasil suntingan (editing) perangkat lunak pada foto banner/spanduk toko. 

“Indikasinya, dia mencatut toko orang lain. Dibuat tag lokasi sendiri. Pas saya lihat lagi foto-fotonya di maps, ternyata nomor HP itu tempelan,” katanya.

Yahya menduga pelaku mencatut nama dan foto toko asli milik orang lain, kemudian membuat titik lokasi sendiri (tag location) untuk mengelabui calon korban.

Sementara, identitas pihak yang berkomunikasi dengannya serta keterkaitannya dengan toko yang tercantum di aplikasi peta masih perlu dipastikan lebih lanjut.

Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti identitas orang yang pertama kali berkomunikasi dengannya melalui WhatsApp. Ia hanya mengingat profil akun tersebut menggunakan nama admin, sedangkan nama orang yang kemudian dihubunginya juga belum dapat dipastikan.

Ia menyebut nomor rekening tujuan transfer menggunakan rekening MNC Bank. Hal tersebut turut membuatnya bertanya-tanya karena ia tidak mengenali keterkaitan rekening itu dengan toko aki yang ditemukannya.

Namun, penggunaan bank tertentu saja tidak dapat dijadikan bukti bahwa suatu transaksi merupakan penipuan. Kepastian mengenai pemilik rekening dan pihak yang menerima uang tersebut tetap memerlukan penelusuran lebih lanjut.

Meski mengikhlaskan kerugian materi yang dialaminya tanpa meluapkan kemarahan kepada pelaku, Yahya mengingatkan masyarakat agar menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran berharga.

“Yang penting hati-hati. Kalau masalah kirim-kirim uang dulu, jangan langsung. Bahaya," tutupnya.