Perut Anak Anjing Ini Berisi Daging Badak Berbulu Terakhir di Bumi

Badak-Berbulu.jpg
(Eurekalert/Albert Protopopov)

RIAU ONLINE, STOCKHOLM-Ilmuwan di Swedia mengungkap penemuan mengejutkan saat melakukan nekropsi (otopsi hewan).

Hewan yang diotopsi adalah sisa-sisa mumi anak anjing, pada zaman es.

Mereka menemukan, sebelum anak anjing purba itu mati, hewan tersebut memakan sepotong daging dari salah satu badak berbulu terakhir di Bumi.

Mulanya, para ahli menemukan lempengan kulit yang tidak tercerna dengan bulu kuning di perut anak anjing tersebut.

Awalnya, para ilmuwan mengira anak anjing itu telah mengunyah sebongkah daging singa gua sebagai makanan terakhirnya.

Tetapi analisis DNA dari lempengan itu mengungkapkan bukan singa gua (Panthera spelaea), tetapi badak berbulu (Coelodonta antiquitatis) yang punah sekitar 14.000 tahun lalu, tetap pada saat anak anjing ini menjadikannya makanan terakhirnya.

Dengan kata lain, anak anjing tersebut memakan salah satu badak berbulu terakhir yang pernah ada.

Anak anjing yang telah dimumikan itu ditemukan di Tumat, sebuah daerah pedesaan di timur laut Siberia pada tahun 2011.

Analisis mengungkapkan bahwa anak anjing tersebut kemungkinan berusia antara 3 dan 9 bulan ketika mati. Sayang, tidak jelas apakah anak anjing tersebut berasal dari jenis anjing atau serigala.

"Saya pikir itu berada di sekitar titik kritis untuk penjianakan anjing atau serigala," kata Edana Lord, seorang mahasiswa doktoral di Centre for Palaeogenetics, Swedia, seperti dikutip Science Alert, Minggu 30 Agustus 2020.

Lord menambahkan bahwa tim ilmuwan di Kopenhagen sedang mencoba untuk menguraikan apakah anak anjing Tumat itu dijinakkan atau tidak.

Penanggalan radiokarbon mengungkapkan bahwa anak anjing Tumat hidup sekitar 14.000 tahun yang lalu.

Para ilmuwan juga memberi penanggalan radiokarbon pada lempengan badak berbulu, untuk mengesampingkan kemungkinan bahwa badak tidak mati lebih awal dan diawetkan di permafrost (lapisan bawah permukaan tanah tebal yang tetap membeku sepanjang tahun) Siberia.

Ada kemungkinan bahwa anak anjing ini mungkin salah satu kawanan pemakan bangkai dan kawanan itu menangkap badak atau sedang mencari makanan dan menemukan bangkai badak.

Jika anak anjing itu dijinakkan, kemungkinan hidup berdampingan dengan manusia yang mungkin telah berbagi makanan berupa daging badak dengan anak anjing tersebut.

Setelah anak anjing itu memakannya, dia mati, meskipun para ahli bertanya-tanya apa penyebabnya.

Artikel ini sudah terbit di Suara.com