RIAU ONLINE, PEKANBARU - Selasa, 15 September 2026, pagi di Pekanbaru tidak disambut oleh cerahnya sinar matahari, melainkan bentangan langit yang meredup dan udara yang terasa kian berat saat dihirup.
Di balik kabut tipis yang mulai menyelimuti sudut-sudut kota, sebuah ancaman senyap tengah berlangsung. Indeks kualitas udara di Ibu Kota Provinsi Riau melonjak tajam hingga menyentuh angka 219 AQI⁺ US, sebuah sinyal bahaya yang menandakan udara Pekanbaru telah masuk ke dalam kategori sangat tidak sehat.
Konsentrasi polutan berbahaya PM2.5 bahkan mencatatkan angka 143,4 µg/m³, membuat napas warga di luar ruangan terasa memburu di tengah suhu pagi 30 derajat Celsius.
Asap karhutla menyelimuti Kota Pekanbaru, Selasa, 15 September 2026. (Foto: Rahmadi Dwi Putra/RIAU ONLINE)
Memburuknya kualitas udara di Kota Bertuah bukan tanpa alasan. Jauh dari riuk kota, puluhan titik api terdeteksi tengah membara di berbagai pelosok Bumi Lancang Kuning.
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), 96 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Riau hingga Selasa pagi. Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) menjadi kawasan yang paling parah mengepulkan asap dengan temuan 70 titik panas.
Pengendara di Pekanbaru harus kembali menghirup udara sangat tidak sehat. (Foto: Herianto Wibowo/RIAU ONLINE)
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yudhistira Mawadah, mengungkapkan bahwa puluhan titik panas di Riau ini sebenarnya hanya sebagian kecil dari ribuan yang saat ini sedang mengepung Pulau Sumatera. Secara keseluruhan, BMKG mencatat tak kurang dari 4.127 titik panas bertebaran di daratan Sumatera.
Di Riau, selain Inhu, beberapa wilayah lain juga mulai menunjukkan kepulan serupa, seperti Bengkalis 1 titik, Kepulauan Meranti 1 titik, Kampar 4 titik, Pelalawan 6 titik, Rokan Hulu 1 titik, Siak 2 titik, Dumai 7 titik, dan Indragiri Hilir 4 titik.
Asap karhutla selimuti Kota Pekanbaru pada Selasa, 15 September 2026, pagi. (Foto: Herianto Wibowo/RIAU ONLINE)
Tingginya konsentrasi titik panas ini menjadi alarm keras bagi masyarakat. Apabila titik-titik api tersebut terus berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih besar, angin dapat dengan mudah membawa gulungan asap pekat menuju permukiman warga.
Menyikapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, BMKG mengingatkan warga Pekanbaru dan sekitarnya untuk terus mewaspadai perubahan kondisi udara. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan pelindung diri, guna meminimalkan dampak buruk dari sebaran asap karhutla yang mengintai keseharian mereka.

