Indonesia Disebut di Tengah Ancaman Krisis, Purbaya Buka Suara

Menteri-Purbaya5.jpg
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa, di Jakarta, Senin, 22 September 2025. (Liputan6.com/Tira)

RIAU ONLINE - Sejumlah pihak menyebut ekonomi Indonesia sedang berada dalam kondisi krisis. Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pernyataan tersebut tidak sesuai dengan data yang ada.

Purbaya menyebut berbagai indikator ekonomi justru menunjukkan kondisi perekonomian yang membaik dan tetap tumbuh.

Purbaya menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada level yang cukup kuat. Ia menyebut ekonomi Indonesia pada periode sebelumnya tumbuh 5,39% dan memperkirakan pertumbuhan pada triwulan ini bisa mencapai sekitar 5,5% atau lebih.

“Terus apa lagi? Semua indikator-indikator. Orang bilang itu karangan purbaya aja. Nggak. Itu BPS. Terus ada PMI. Itu lembaga lain yang mensurvei, kan? Ada konsumen confidence yang survei BI sama LPS. Itu lembaga yang terpisah. Sama, naik semua,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, dilansir dari Liputan6.com, Selasa, 17 Maret 2026.

Selain itu, indikator lain seperti retail sales index dari Bank Indonesia, penjualan mobil dari asosiasi industri, hingga Mandiri Spending Index juga menunjukkan peningkatan yang mencerminkan aktivitas ekonomi yang semakin kuat.


Purbaya juga menyinggung pihak-pihak yang menyebarkan narasi negatif mengenai kondisi ekonomi Indonesia tanpa didukung data yang jelas.

“Mereka nggak pernah belajar ekonomi, nggak pernah kuliah ekonomi. Di mana debatnya? Saya debat sama orang pinggir jalan yang nggak jelas jadinya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan alasan tidak mengajak pihak-pihak tersebut untuk berdiskusi atau berdebat mengenai kondisi ekonomi.

“Kenapa nggak saya ajak debat? Apa yang didebatin? Dia nggak punya data,” tuturnya.

Purbaya menilai penilaian terhadap kondisi ekonomi seharusnya didasarkan pada data dan indikator yang terukur, bukan sekadar sentimen atau opini.

“Coba lihat data yang betul. Suruh belajar yang betul. Kalau emang jelek, kita betulin. Tapi kalau udah bagus, kita betulin sebelah mana. Dia cuma menemukan sensasi negatif aja, menemukan sentimen negatif ke ekonomi. Mungkin dia terlambat kemarin beli saham, jadi pengen beli di bawah,” tuturnya.