Rupiah Tembus Rp 17.000, Purbaya Sebut Ekonomi Belum Melambat

Menteri-Purbaya5.jpg
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa, di Jakarta, Senin, 22 September 2025. (Liputan6.com/Tira)

RIAU ONLINE - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus level Rp 17.000 pada Senin, 9 Maret 2026. Melemahnya rupiah di pasar valas ini seiring dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi domestik di pasar keuangan. Meski begitu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan belum menunjukkan indikasi perlambatan.

“Ekonomi sedang ekspansi. Resesi saja belum, melambat pun belum,” kata Purbaya kepada wartawan di Blok A Pasar Tanah Abang, dilansir dari kumparan, Senin, 9 Maret 2026.

Sementara itu, data data Bloomberg menunjukkan nilai tukar rupiah dibuka menyentuh Rp 17.017 per dolar AS. Hingga pukul 15.59 WIB, rupiah berada di posisi Rp 16.949 per dolar AS.

Menurut Purbaya, sentimen global mempengaruhi pelemahan rupiah dan tekanan di pasar saham saat ini. Faktor utama yang memicu gejolak adalah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional yang mendorong kenaikan harga energi, terutama minyak.

Pemerintah, kata dia, terus memantau perkembangan harga minyak global karena berpotensi mempengaruhi kondisi fiskal negara, khususnya terkait belanja subsidi energi. Meski demikian, pemerintah belum akan mengambil langkah kebijakan secara terburu-buru.


“Kita lihat dulu sebulan ini seperti apa keadaannya. Nanti kita evaluasi secara menyeluruh,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dihitung berdasarkan rata-rata dalam satu tahun. Karena itu, lonjakan harga yang terjadi dalam waktu singkat belum tentu langsung berdampak besar terhadap kebijakan fiskal.

“Kalau sekarang USD 100, belum tentu setahun rata-ratanya USD 100. Bisa saja nanti turun lagi,” kata dia.

Purbaya juga menegaskan hingga kini pemerintah belum berencana menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Ia memastikan ruang fiskal masih cukup untuk meredam dampak kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.

“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM atau menaikkan harga BBM,” ujarnya.

Di tengah gejolak pasar, Purbaya meminta pelaku pasar dan masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kondisi ekonomi nasional sedang menuju krisis. Menurut dia, pemerintah memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi global.

“Teman-teman tidak usah takut. Kita sudah punya pengalaman menghadapi berbagai krisis dan tahu bagaimana menjaganya,” kata Purbaya.