Bekal Bebas dari Jeruji, Lapas Pekanbaru Latih Warga Binaan Jadi Terapis

Kalapas-pekanbaru-eko-ari-wibowo.jpg
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Eko Ari Wibowo. (DEFRI CANDRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru terus berupaya membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang dapat menjadi modal untuk menjalani kehidupan mandiri setelah bebas. 

Salah satunya melalui pelatihan teknik pijat badan tradisional yang diikuti 30 warga binaan pemasyarakatan (WBP), Jumat, 16 Oktober 2026.

Pelatihan yang digelar di Aula Lapas Kelas IIA Pekanbaru tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Senam Pesona. Kegiatan berlangsung selama dua hari, mulai 16 hingga 17 Oktober 2026, dengan melibatkan instruktur bersertifikat.

Dari 50 orang yang menjadi sasaran kegiatan, sebanyak 30 warga binaan mengikuti pelatihan setelah melalui proses asesmen. Mereka mendapatkan pembekalan teknik dasar pijat badan tradisional yang disesuaikan dengan kompetensi dan kurikulum pelatihan.

Kegiatan tersebut disaksikan langsung Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Eko Ari Wibowo. 

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan keterampilan dan kesiapan warga binaan untuk kembali ke tengah masyarakat dengan bekal keahlian yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha maupun untuk melamar pekerjaan.

Kalapas Kelas IIA Pekanbaru, Eko Ari Wibowo, mengatakan pelatihan kerja bersertifikat merupakan salah satu program aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi warga binaan.

"Pelatihan ini merupakan salah satu program aksi dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Kita salah satunya ditugaskan untuk memberikan pelatihan kerja bersertifikat kepada warga binaan," ujar Eko, Jumat, 16 Oktober 2026.

Menurutnya, sertifikat kompetensi menjadi salah satu bekal penting bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat. 

Dengan mengikuti pelatihan yang memiliki standar jelas, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mempunyai keterampilan yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Dengan pelatihan kerja bersertifikat ini, mereka mempunyai standar yang jelas dan dinyatakan lulus dengan baik, sehingga ini bisa menjadi bekal mereka pada saat nanti bebas," ujarnya.

Eko menjelaskan, pelatihan pijat badan tradisional dipilih karena keterampilan tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan dengan modal usaha yang relatif terjangkau. Peserta yang telah menguasai teknik pijat dan memperoleh sertifikat diharapkan memiliki kesempatan untuk bekerja di tempat kebugaran atau usaha jasa pijat.

"Untuk khusus pijat ini, nantinya 30 orang yang sudah dilatih akan mendapatkan sertifikat. Sehingga pada saat mereka bebas nanti bisa mendaftar di tempat-tempat panti kebugaran atau panti pijat yang saat ini jasanya sangat laku dan digemari masyarakat di luar lapas," jelasnya.

Ia menambahkan, sertifikat pelatihan akan diberikan melalui lembaga pelatihan resmi yang berada dalam lingkup Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Pendidikan, sesuai dengan penyelenggaraan program tersebut.

Selain menjadi bekal untuk bekerja, keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut. Warga binaan yang telah menguasai materi dan memiliki kemampuan memadai nantinya berpeluang menjadi mentor bagi warga binaan lainnya.

"Harapannya, benar-benar mereka bisa menjadi ahli dan bisa menjadi mentor pada warga binaan yang lain. Setelah mereka nanti ahli dan bisa menjadi instruktur, mereka akan menularkan ilmu ini kepada warga binaan yang lain," lanjut Eko.



Pelatihan Berkelanjutan, Disiapkan Program Bakery hingga Keripik

Eko menegaskan, pembinaan keterampilan di Lapas Pekanbaru tidak akan berhenti pada pelatihan pijat badan tradisional. Pihaknya berencana mengembangkan sejumlah program pelatihan lain yang dapat mendukung kemandirian warga binaan, termasuk keterampilan di bidang usaha makanan.

Beberapa program yang direncanakan di antaranya pelatihan pembuatan roti atau bakery, pembuatan tempe, serta produksi keripik yang berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Lapas Pekanbaru.

Menurutnya, pengembangan keterampilan tersebut diharapkan membuka lebih banyak pilihan bagi warga binaan untuk memperoleh penghasilan setelah menjalani masa pidana.

"Kegiatan pelatihan akan terus kita tingkatkan. Ke depannya, kita merencanakan pelatihan bakery, pembuatan tempe, dan pabrik keripik untuk UMKM unggulan Lapas Pekanbaru," katanya.

Ia juga memastikan pelatihan akan dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan agar semakin banyak warga binaan yang memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan.

"Kegiatan ini tidak hanya berhenti sekarang. Akan terus kita lakukan secara periodik dan berkelanjutan. Harapannya, banyak warga binaan yang bisa memiliki keterampilan pijat badan tradisional ini," pungkasnya.

Sementara itu, Pimpinan LKP Senam Pesona, Ernani Rahayu, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bertujuan menyiapkan tenaga terapis baru yang memiliki pengetahuan dasar dan keterampilan sesuai standar pembelajaran.

Ia mengatakan, istilah terapis digunakan untuk menggambarkan tenaga yang memiliki kompetensi dalam memberikan layanan pijat sesuai bidang keahliannya. Karena itu, peserta tidak sekadar diajarkan memijat, tetapi juga diperkenalkan pada teori dan teknik yang terarah.

"Kami dari LKP Senam Pesona memang tujuannya menyiapkan terapis-terapis baru. Kalau dulu disebut tukang pijat, tetapi dalam bahasa pendidikan disebut terapis,” ujar Ernani.

Menurutnya, materi pelatihan disusun berdasarkan kompetensi dan kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Peserta dibekali teknik dasar pijat badan dengan memperhatikan anatomi tubuh dan tujuan layanan.

"Jadi kita bukan asal pijat. Ada teori resmi dari kementerian, yang mana materinya dasar, yaitu teknik dasar pijat badan. Tekniknya disesuaikan dengan anatomi dan tujuannya memang untuk membantu relaksasi," jelasnya.

Ernani menegaskan, pelatihan tersebut berfokus pada pijat relaksasi bagi orang yang sehat, terutama untuk membantu mengurangi rasa lelah dan memberikan kebugaran. Pelatihan itu bukan untuk mengajarkan penanganan medis terhadap patah tulang atau cedera seperti keseleo.

"Jadi kita bukan pengobatan. Kalau ada pijat untuk patah tulang atau keseleo, kami bukan itu. Pelatihan ini memang untuk orang sehat yang membutuhkan terapi relaksasi, yang merasa penat atau capek, sehingga kebugarannya bisa kembali," terangnya.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat menjadi modal bagi warga binaan untuk membuka usaha secara mandiri atau bekerja di bidang jasa pijat setelah kembali ke masyarakat.

"Tujuan kami ke sini untuk membantu para peserta mendapatkan kompetensi, pendidikan vokasi, dan keterampilan. Setelah menguasai ini, mereka bisa mandiri ketika terjun ke masyarakat, punya modal, dan tentunya dapat menambah penghasilan," kata Ernani.

Ia juga menilai profesi terapis memiliki nilai positif karena membantu orang yang merasa lelah menjadi lebih rileks dan segar. Dengan keterampilan yang sesuai, peserta diharapkan dapat memberikan layanan secara terarah dan bertanggung jawab.

Dalam pelaksanaan pelatihan, Ernani menilai antusiasme peserta menjadi salah satu faktor yang mendukung proses pembelajaran. Berdasarkan pengamatannya, para warga binaan menunjukkan minat yang baik, aktif bertanya, dan mengikuti kegiatan dengan serius.

Ia menyebut sebagian peserta kemungkinan telah mengenal teknik pijat secara otodidak, baik dari keluarga maupun pengalaman sehari-hari. Melalui pelatihan ini, pengetahuan tersebut diharapkan dapat diperbaiki dan disesuaikan dengan teknik yang lebih terarah.

"Rata-rata mereka mungkin sudah bisa secara otodidak, karena belajar dari nenek atau kakeknya, atau memang turun-temurun. Namun, melalui pelatihan ini, tekniknya disesuaikan lagi, diperbarui, dan dibuat lebih terarah," ungkapnya.

Ernani mengaku optimistis materi dapat diterima dengan baik karena peserta memperlihatkan keseriusan selama kegiatan berlangsung.

"Saya rasa tidak sulit, karena peserta sangat antusias. Tadi sebelum mulai, mereka sudah datang semua. Dari awal sampai akhir juga aktif bertanya," katanya.

Ia berharap pelatihan tersebut benar-benar menghasilkan sumber daya manusia baru yang memiliki keterampilan sebagai terapis dan mampu memanfaatkan keahliannya secara positif setelah bebas.

Lebih jauh, Ernani menilai layanan pijat relaksasi yang dilakukan sesuai kompetensi dapat menjadi salah satu upaya pendukung kebugaran masyarakat. 

Karena itu, ia berharap para peserta tidak hanya memperoleh sertifikat, tetapi juga memahami batasan layanan dan menerapkan keterampilan dengan benar.

"Semoga sesuai dengan tujuan Bapak Kalapas, sasarannya juga tercapai, yaitu membuat SDM terapis-terapis baru yang membantu masyarakat. Dengan pijat sederhana, manfaatnya bisa besar, terutama untuk relaksasi dan menjaga kebugaran," tuturnya.

Pelatihan pijat badan tradisional ini menjadi salah satu bentuk pembinaan yang diarahkan pada peningkatan keterampilan praktis warga binaan. Melalui pembelajaran teori, praktik, dan sertifikasi, peserta diharapkan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pidana.

Bagi Lapas Pekanbaru, pembinaan tidak hanya berfokus pada pelaksanaan masa pidana, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar memiliki kesempatan untuk bekerja, berwirausaha, dan beradaptasi ketika kembali ke lingkungan sosial.