Karhutla Riau Tembus 20.691 Hektare, Bengkalis-Pelalawan Jadi Penyumbang Terbesar

Usai-Prabowo-dan-Menteri-Datang-ke-Riau-Karhutla-Terus-Membara-di-Inhil-dan-Pelalawan.jpg
Salah satu lahan yang terbakar di Riau (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau sepanjang 2026 telah mencapai 20.691,20 hektare. Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan menjadi dua daerah dengan luasan kebakaran terbesar, di tengah kondisi kabut asap yang semakin mengganggu kenyamanan dan aktivitas masyarakat.

Karhutla yang belum sepenuhnya tertangani itu kembali menjadi perhatian. Asap dari kebakaran lahan menyelimuti sejumlah wilayah, membuat udara terasa tidak nyaman dan mengurangi jarak pandang. Warga juga mulai mengeluhkan dampaknya, seperti mata perih hingga tenggorokan terasa sakit ketika beraktivitas di luar ruangan.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, Kabupaten Bengkalis menempati urutan pertama dengan luas lahan terbakar mencapai 8.573 hektare. Sementara itu, Kabupaten Pelalawan berada di posisi kedua dengan luasan 6.710 hektare.

Kepala BPBD Riau, M Edy Afrizal, membenarkan bahwa kedua kabupaten tersebut menjadi wilayah dengan dampak karhutla terbesar sepanjang tahun ini.

"Untuk saat ini, luas lahan yang paling banyak terbakar di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Pelalawan," kata Edy, Rabu, 10 Oktober 2026.

Setelah Bengkalis dan Pelalawan, kebakaran juga meluas ke sejumlah kabupaten dan kota lainnya. Kabupaten Indragiri Hulu tercatat memiliki luas lahan terbakar 1.674 hektare, disusul Indragiri Hilir 1.408 hektare dan Kota Dumai mencapai 651 hektare.

Adapun Kabupaten Rokan Hilir mencatat luas lahan terbakar 509 hektare, Kabupaten Siak 430 hektare, Kepulauan Meranti 307 hektare, Kabupaten Kampar 178 hektare, Kuantan Singingi 139 hektare, serta Kota Pekanbaru 106 hektare.

"Disusul Kabupaten Indragiri Hulu berada di urutan berikutnya dengan luas lahan terbakar 1.674 hektare, Indragiri Hilir 1.408 hektare dan Kota Dumai 651 hektare," ujarnya.



data karhutla di Riau

Data karhutla Riau. (Dok. BPBD Riau)

Edy juga memaparkan bahwa kebakaran tidak hanya terjadi di daerah dengan luasan terbesar, tetapi tersebar di berbagai wilayah di Riau.

"Rinciannya, Kabupaten Rokan Hilir seluas 509 hektare, Siak 430 hektare, Kepulauan Meranti 307 hektare, Kampar 178 hektare, Kuantan Singingi 139 hektare, dan Kota Pekanbaru 106 hektare," terangnya.

Di tengah besarnya luasan lahan yang terbakar, kabut asap menjadi persoalan yang semakin dirasakan masyarakat. Kondisi udara yang memburuk membuat aktivitas di luar rumah terasa lebih berat, terutama bagi warga yang harus bepergian atau bekerja di luar ruangan.

Salah seorang warga, Defri, mengaku kondisi kabut asap belakangan ini semakin mengganggu. Ia merasakan udara yang tidak nyaman ketika keluar rumah, bahkan mulai mengalami gangguan pada tenggorokan.

"Belakangan ini asap semakin terasa. Saat keluar rumah, udara terasa tidak nyaman dan tenggorokan mulai terganggu. Kami berharap kebakaran segera bisa dipadamkan agar kondisi kembali normal," ujar Taufik.

Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Warga berharap penanganan karhutla dilakukan secara serius agar kebakaran tidak terus meluas dan kabut asap tidak semakin parah.

Ia juga meminta pemerintah bergerak cepat dalam mengatasi kebakaran yang terjadi di sejumlah daerah di Riau. Upaya pemadaman, menurutnya, perlu menjadi perhatian agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih aman dan nyaman.

"Semoga pemerintah cepat dan serius dalam mengatasi permasalahan kabut asap di Riau," tutupnya.

Dengan luas karhutla yang telah menembus 20.691,20 hektare, penanganan kebakaran menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait.