RIAU ONLINE, PEKANBARU – Penyaluran bantuan beras di Kantor Lurah Limbungan Baru, Pekanbaru, diwarnai drama. Warga penerima bantuan harus berdesakan demi mendapatkan nomor antrean, bahkan aksi saling dorong terjadi hingga membuat anak kecil menangis dan sejumlah lansia terjepit.
Kericuhan tersebut dipicu panjangnya antrean warga yang hendak mengambil bantuan beras sebanyak 30 kilogram. Warga mengaku sudah datang sejak pagi, namun harus kembali menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan bantuan.
Tak hanya soal antrean, warga juga mempertanyakan mekanisme penyaluran bantuan. Penerima terlebih dahulu harus mengambil barcode melalui rumah ketua RT maupun RW masing-masing.
Persoalan muncul ketika sebagian warga ternyata tidak mengetahui dirinya terdaftar sebagai penerima bantuan. Akibatnya, mereka berpotensi tidak mendapatkan bantuan hanya karena tidak memperoleh informasi mengenai barcode tersebut.
Setelah barcode berada di tangan, warga masih harus berebut nomor antrean di Kantor Lurah Limbungan Baru. Situasi semakin padat ketika warga secara bersamaan berusaha mendapatkan nomor antrean. Dorong-dorongan pun tak terhindarkan.
Di tengah kerumunan, anak-anak yang ikut bersama orang tuanya bahkan menangis karena terjepit. Warga lanjut usia juga ikut menjadi korban padatnya antrean.
Seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Ia mengatakan datang sejak pukul 07.00 WIB ke Kantor Lurah Limbungan Baru.
Namun, bukannya langsung mendapatkan bantuan, ia justru memperoleh nomor antrean hingga 100-an.
"Saya tadi datang jam 7 pagi di Kantor Lurah Limbungan Baru, dapat antrean 100-an," tuturnya.
Menurut warga tersebut, pelayanan pengambilan bantuan dijadwalkan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga sekitar pukul 14.00 WIB. Panjangnya antrean membuat dirinya memilih kembali pada siang hari. Ia kemudian kembali ikut mengantre sekitar pukul 12.30 WIB.
"Lantaran saya mendapatkan antrean yang panjang, saya harus kembali siang hari dan mulai ikut antre sejak pukul 12.30 WIB," ujarnya.
Selain sistem antrean, warga juga menyoroti waktu istirahat petugas yang disebut berlangsung mulai sekitar pukul 12.30 WIB.
Kondisi tersebut dinilai semakin memperparah penumpukan warga. Mereka yang telah menunggu sejak pagi harus kembali menunggu ketika pelayanan dihentikan sementara untuk istirahat.
Warga berharap penyaluran bantuan ke depan dapat dilakukan dengan sistem yang lebih tertib. Mulai dari penyampaian informasi kepada penerima, pembagian barcode, hingga pengaturan nomor antrean.
Terlebih, penerima bantuan terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk warga lanjut usia dan mereka yang membawa anak kecil.
Warga meminta agar proses pembagian bantuan tidak lagi membuat penerima harus berdesakan dan berebut demi mendapatkan hak bantuan yang telah ditetapkan.

